Sabtu, 21 November 2015

Semangat Pagi Indonesia

Berdiskusi sehat untuk memberi kontribusi bagi negeri. (dok. Antanasia Rian)


“Setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara”. (Pasal 27 Ayat 3, UUD 1945)


"Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara." (Pasal 30 Ayat 1, UUD 1945)



"Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." (John F. Kennedy)


---------------------------------------


Sahabat Indonesia, membaca satu persatu 3 kalimat di atas, tentu akan banyak pertanyaan di benak kita. 3 kalimat  yang akan terasa tanpa makna atau akan terasa biasa saja bila tidak saya sebutkan sumber kutipan. Sebagaimana jika saya sebutkan 'Notosuman'. Akan terasa biasa saja, jika kita menyebutkannya tanpa embel-embel 'serabi'. Siapa sih yang tak kenal dengan 'Serabi Notosuman'?

Demikian juga saat kita berbicara tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Tentu kita secara subjektif akan menempatkan hak di atas kewajiban jika menyangkut harkat dan martabat hidup sebagai  warga negara. Dimana idiom tersebut akan berbalik 180 derajat jika kita membaca kata bijak dari John F. Kennedy.

Yups. Seringkali kita bicara tentang hak sebagai warga negara. Kita akan selalu merasa tidak puas dengan kondisi yang terjadi. Seolah-olah kita menjadi orang yang 'paling terzalimi' di negeri, Indonesia. Sebagaimana yang saya rasakan juga. Namun, pada batas kesadaran kita saat kita membaca kata bijak dari John F. Kennedy, plak! Kita pun seperti tertampar.

Malu. Satu kata yang pantas saya tunjukkan kepada diri saya sendiri. Terlalu sombong, terlalu egois, terlalu menuntut, dan terlalu lain yang mungkin tanpa sadar kita telah lakukan. Ternyata saya belum banyak melakukan apa-apa untuk negara saya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Padahal berbagai kisah, film, buku, bahkan pelajaran sejarah yang mematri di otak dan hati kita. Kemerdekaan negeri ini tidak gratis, Bung! Banyak pengorbanan dan cerita panjang untuk mencapai kemerdekaan itu. Waktu,  harta, bahkan darah telah mewarnai perjalanan panjang untuk mencapai kemerdekaan itu.

Lalu setelah kita merdeka dan menikmati kemerdekaan itu dengan 'gratis', masih saja menjadi 'kelas penuntut' bagi negeri ini? Saya yakin kita tidaklah sepicik itu bukan? Sebagai warga negara yang nota bene memiliki pekerjaan atau passion sebagai netizen, baik itu sebagai penggerak sosial media, jurnalis, atau blogger kita pasti 'lebih cerdas'. Membaca gerak zaman sekaligus membaca gerak IPTEK untuk memberikan sesuatu yang positif bagi negeri ini.

Kita pasti berharap untuk dapat memberikan kontribusi kepada Indonesia, walau hanya berupa setiti noktah 'semangat hidup'. NKRI harus tetap hidup dan memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Untuk dapat memberikan yang terbaik bagi rakyatnya, tentu negeri ini haruslah bekerja. Bekerja dibutuhkan tenaga kerja. Maka kitalah yang akan menjadi 'pekerja' bagi republik yang kita cintai ini.

Pun dengan netizen, saya yakin akan memiliki semangat hidup itu. Semangat untuk menjadi pekerja bagi republik yang dicintainya ini. Sudah saatnya kita berhenti bersilat lidah, mulailah bermusyawarah. Sudah saatnya kita berhenti berseteru, mulailah bersatu. Sudah saatnya kita berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat. Untuk satu Indonesia yang lebih baik. Untuk satu NKRI yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Selamat pagi Indonesiaku.
Semanagat pagi Indonesia!

--- Catatan kecil dari Kota Bengawan Solo.





This Is The Oldest Page

1 komentar so far

Bicara ttg ideologi kini seolah membicarakan sesuatu hal yg tabu. Sudah saatnya kita menyadarkan diri bahwa karena ideologi negara lah negeri ini dapat dipersatukan.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon