Sabtu, 26 Desember 2015

Abon Jambrong, Abon Khas Betawi Punya

Okto (kacamata) dan Nia Melandana (kaos kuning), founder Abon Jambrong. (dok. pribadi)

Sahabat Indonesia, mendengar kata 'Jambrong', pasti telinga kita merasakan ada bunyi yang aneh. Sensasi lucu-lucu gimana gitu lho. Bagi sebagian warga Betawi, jambrong mungkin sudah cukup familiar. Ikan jambrong sudah sejak lama menjadi santapan tradisional bagi mereka. Tak terkecuali warga Betawi di seputaran Jakarta, khususnya daerah Depok.


Ikan jambron/kerong-keronggendang, atau biasa disebut dengan jambrong adalah ikan dari famili Terapon. Lebih spesifik lagi adalah dari spesies Therapon therabs. Dari famili sejenis, dua spesies yang mirip bentuknya adalah Terapon jarbua (jambrung atau kerong-kerong tambi) dan Terapon puta (kerong-kerong padi). Ikan ini banyak dijumpai di Laut Karibia, Laut Persia, Laut India, Laut Andaman, laut-laut di Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan. Nah, spesies pertama itulah yang biasanya banyak dikonsumsi oleh warga Betawi. Sekaligus menjadi lauk tradisional bagi mereka.

Mengingat variasi olahan yang 'itu-itu saja' membuat pasangan uni Nia  dan mas Dana penasaran. Meskipun bukan merupakan pribumi (asli) Betawi, tapi mereka berdua termasuk penggemar ikan jambrong ini. Sensasi rasa asin yang khas, membuat mereka berpikir agar ikan jambrong bisa diolah dan disajikan dengan lebih menarik. Maka beberapa alternatif pilihan olahan mampir di benak mereka. Hingga ta ta....dijadikan abon. Menu olahan yang mungkin tidak terbersik di pikiran kita.

Abon Jambrong dg 2 varian siap saji. (dok. pribadi)

Maka di awal tahun 2015, mulailah petualangan para founder Abon Jambrong ini. Menemukan formula bumbu, campuran bahan, hingga menjadi kemasan seperti yang saat ini dapat kita nikmati. Tidak mudah memang untuk mengawali bisnis. Apalagi bisnis makanan yang merupakan varian yang benar-benar baru. Belum pernah produk sejenis ditemukan di pasaran.

"Waktu pertama kali mengenalkan Abon Jambrong, banyak orang yang komplen. Masak abon kok rasanya asin?" Demikian uni Nia menyampaikan kepada saya dan beberapa sahabat Kompasianer saat berkunjung ke rumah produksi Abon Jambrong. Kebetulan juga rumah produksi ini sekaligus menjadi rumah tinggal yang terletak di bilangan Cinere Megapolitan, Depok. 

Pengolahan yg masih manual membuat aroma sedap tetap terasa. (dok. pribadi)

Proses 'jatuh bangun' untuk memproduksi sekaligus memasarkan dialami oleh pasangan ini. Cibiran serta komentar sinis menjadi pemacu untuk membuktikan bahwa olahan ini dapat diandalkan cita rasanya. Pengalaman hidup menjadi guru terbaik bagi mereka. Seperti yang diungkapkan oleh mas Dana, berbagai metode penjualan pun ditempuh. Termasuk penjualan onlen yang sempat memberikan dampak siginifikan.

Berhubung ketersediaan bahan dan harga bahan yang lumayan mahal, maka perbaikan kualitas kini menjadi prioritas. Sertifikat SPP-IRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinkes Kota Depok telah diraih di bulan Oktober 2015. Target di tahun 2016 pun mulai dipasang. Meski kini di pasaran mulai beredar olahan sejenis yang sangat mirip (bahkan sampai dengan merek) tak membuat pasangan ini mundur. Pangsa pasar luar negeri menjadi bidikan berikutnya. 

Abon Jambrong dengan 2 varian. (dok. pribadi)

Abon Jambrong yang dibuat dengan cara sederhana kini sudah menjadi gaya hidup. Dengan kemasan 130 gram membuat makanan ini begitu fleksibel dibawa ke mana saja. Bagi para traveler kemasan ini sangatlah praktis. Jika dalam kondisi darurat, cukup siap nasi atau mi goreng/rebus, Abon Jambrong siap dijadikan lauk. Abon rasa asin pasti akan memberikan rasa tersendiri seperti yang saya rasakan. Tak sampai seminggu, kemasan 130 gram pun tandas.
Sambal Jambrong yg 'ciaaat' banget. (dok. Kartina I.S.)

Nah, rupanya setelah cukup 'mapan' dengan Abon Jambrong-nya. Uni Nia, semakin tertantang untuk membuat varian baru pelengkap pendampingnya. Dipilih lah sambal sebagai varian baru 'adik' Abon Jambrong. 'Sambal Jambrong' demikian nama produk sambal baru tersebut. 

Dengan bahan dasar ikan jambrong dan dikombinasikan dengan bahan lainnya menjadi varian yang cukup 'nendang'. Sambal Jambrong Iris, cukup berhasil 'mengiris' lidah saya. Pedas dan rasa asamnya cukup menjadi rival yang seimbang bagi penyuka pedas. Acungan dua jempol untuk uni Nia atas 'kekejaman' sambal yang dikemas dalam botol ukuran 200 gram tersebut.

Sahabat Indonesia, inilah yang membuat saya makin cinta Indonesia. Karakter enterpreneur yang dimiliki oleh uni Nia dan mas Dana inilah yang membuat Indonesia mampu bertahan. Semangat kaum muda untuk membangun negeri. Menggali potensi budaya lewat makanan tradisional menjadi pengayaan khasanah kuliner nusantara. Pantang menyerah, kreatif, dan selalu berbenah untuk menyongsong hidup yang lebih baik. 

3 komentar

Aku baru pertama kali mendengar tentang jambrong nih. Inovatifnya yang diubah menjadi abon. Daripada di kelola pada umumnya. Makasih infonya :)

Rasanya jian asyik deh, Mbak. Pasti akan ketagihan kalo sudah mencoba pertama kali.

wow enak banget kayaknya! Indonesia memang penuh dengan masakan lezat yang beraneka rasa. cek disini Beautiful Indonesia untuk lihat keanekaragaman Indonesia lainnya ya

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon