Sabtu, 05 Desember 2015

Fave Graha Agung Surabaya Tempat Menginap Pebisnis Muda

Fave Hotel Graha Agung dilihat dari arah barat. (dokpri)

Sebagai kota metropolis, saat ini Surabaya tengah bergeliat di semua sektor. Termasuk di dalamnya adalah semakin berkembangnya pembangunan pusat bisnis ke pinggiran kota. Daerah Surabaya Barat dalam satu dekade ini tumbuh sangat pesat. Sektor bisnis real menjadi penggerak utama pergeseran pusat ekonomi kota.


Tumbuhnya pusat perbelanjaan, perkantoran, perumahan, apartemen, serta hotel tak dapat dihindari lagi. Oleh karena itu, kawasan Surabaya barat kini menjelma menjadi kawasan ‘intan permata’.  Hotel-hotel baru tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dapat dimaklumi, sebagai kawasan pusat bisnis baru maka para tamu pun berdatangan. Efisiensi waktu menjadi pertimbangan sebab faktor kepadatan dan kemacetan di jalan menjadi satu hal wajib yang harus dihindari.

Demikian juga keberadaan Hotel Fave Graha Agung, sebagai salah satu hotel baru namun sudah cukup lirik. Termasuk saya salah satunya. Hal ini karena keperluan bisnis yang mengharuskan untuk bermalam di hotel yang tak jauh dari Spazio. Selain tempatnya yang sangat berdekatan, ditunjang dengan fasilitas antar jemput yang siap 24 jam (sesuai permintaan) dari pihak hotel.


Letak Strategis


Terletak di Jl. Mayjen Yono Soewoyo, berada di komplek Citra Land. Dimana di sekitarnya bertebaran pusat bisnis strategis Spazio, PTC (Pakuwon Trade Center), Graha Family, serta rumah sakit internasiona Ciputra World. Hanya 1,5 kilometer dari Jl. Mayjen Sungkono yang merupakan salah satu jalan utama di Surabaya barat. Sementara untuk menuju gerbang tol menuju Bandara Juanda hanya dibutuhkan waktu 5-10 menit bila jalanan lancar.

Check-in ga pakai lama. (dokpri)
Nah, bagi para pebisnis yang butuh waktu efisien hotel inilah yang menjadi jujugan. Sebagai hotel bintang 3 fasilitas yang ada sudah cukup memadai. Meski masih dijumpai kekurangan di beberapa fasilitas penunjang. Namun dapat ditutupi dengan keramahan serta kesigapan dari para kru hotel. Maklumlah, mengusung semboyan fun, fresh n friendly, mereka selalu berharap dapat memberikan layanan terbaik untuk para tamu.

Tak sampai 5 menit untuk proses check-in. Saya pun bergegas menuju kamar yang berada di lantai 8. Maklumlah, Sabtu malam merupakan waktu padat kunjungan. Sehingga saya ‘ditempatkan’ di lantai tertinggi. Hehehe.


Fasilitas Elegan

Kamar superior double bed yang saya dapatkan malam itu. Cukup lumayan nyaman meski tak ada pemandangan di luar (langsung menatap tembok). Fasilitas free-wifi dengan kecepatan yang cukup kencang cukup menunjang keperluan saya untuk ngeblog dan nonton film tentu saja. Meski tv lcd yang disediakan cukup nyaman untuk ditonton. Berhubung saya tidak begitu suka nonton tv, maka cukuplah buat pengantar tidur malam.


Kamar mandi minimalis tapi manis. (dokpri)

Sarana pengantar tidur. (dokpri)
Yg kecil gratis, yg gede bayar. Hehehe. (dokpri)

Kamar mandi meski terasa sempit dengan ukuran tubuh saya, tapi sangat bersih dan segala perabotan yang minimalis. Maklumlah mengusung semangat eco care, hotel ini berusaha meminimalkan limbah kimia. Setelah mandi tengah malam (tanpa kembang), tubuh yang cukup lelah segera saya rebahkan.

Bobo manis sampai Subuh. (dokpri)

Ting tong. Azan Subuh pun sayup terdengar di kejauhan. Ah, sayangnya hotel ini posisinya berjauhan dengan masjid. Segera saya tunaikan shalat Subuh di dalam kamar saja. Untuk ke mushala harus turun soalnya.

Tectona Grandis nyaman dan asyik untuk kongkow. (dokpri)

Sambil menunggu waktu sarapan yang baru siap jam 6 pagi, saya gunakan waktu untuk jalan-jalan. Iseng-iseng bertanya kepada waitress yang lalu lalang, ternyata meski belum jam 6, sudah boleh ngopi dulu. Langsung dah cap cus menuju meja yang sudah tertata rapi.

Aneka minuman dan makanan sudah tertata rapi di tempatnya. Menu sarapan ternyata sangat variatif. Mulai dari masakan tradisional hingga makanan bule. Roti dan kawan-kawan maksud saya. Untuk rasa, jangan tanya lagi deh nikmatnya. Tak rugi rasanya meski harus merogoh kocek agak dalam dibandingkan tarif hotel bintang 3 di tengah kota.

Buryamnya yummy njitak. (dokpri)
 
Bihun goreng yang harum dan gurih. (dokpri)
Hanya 2 kata: luluh lantak. (dokpri)

Idiom ‘mangan sak mbledose’ (makan sampai kenyang) bolehlah berlaku di Tectona Grandis. Ini nama resto yang saya pakai untuk sarapan. Cocok banget untuk idiom itu ya? Hahaha.


Nah, ada beberapa sudut yang cukup asyik untuk berfoto ria lho. Tentu akan menarik pagi penghobi selfie. Tapi ada baiknya bisa langsung cek di hotelnya deh. Hihihi.



Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon