Selasa, 08 Desember 2015

Kang Aher: Bekerja Dalam Senyap

Ramah dan tak berjarak.

Sahabat Indonesia, sosok itu begitu hangat. Keakraban yang tercipta bukanlah dibuat-buat. Rekahan senyum selalu tersungging di sela-sela menjamu kami. Tak nampak kesan bahwa beliau adalah salah satu sosok yang amat penting di Jawa Barat.

Sebut saja Ahmad Heryawan. Mungkin tak semua orang paham. Tapi coba sebut dengan Kang Aher. Dari sopir angkot 09 hingga emak penjual kue serabi di depan Stasiun Kiaracondong pasti mengenal beliau. Meski tak banyak media yang mengekspos tapi warganya tahu dan dapat rasakan apa yang beliau kerjakan untuk mereka. Bekerja dalam Senyap. Demikian sahabat kajian yang biasa saya ikuti menjuluki beliau.


Tanpa jarak. Demikianlah suasana yang terbangun, ketika acara media gathering antara Panpel PON XIX dan PEPARNAS XV 2016 bersama para 23 orang Kompasianer Bandung. Tanpa sungkan dan canggung beliau makan siang bersama. Membagikan nasi kepada kami serta menyodorkan ayam goreng manis kesukaan beliau.

Sebelum memulai makan pun beliau sempatkan menyelipkan nasehat tentang sebuah kata 'dakwah'. Secara bahasa kata ini memiliki arti seruan, ajakan, atau panggilan. Termasuk ajakan untuk makan bersama ini. Dimana ajakan atau seruan tersebut tentulah dengan cara yang halus, lembut, dan santun. Begitu juga tentunya dalam serukan dakwah syi'ar agama yang seharusnya dilakukan dengan cara yang lembut dan santun.

Naluri  seorang ustaz yang tak pernah menyia-nyiakan momen. Pun dalam bekerja, sepertinya beliau menganut prinsip yang demikian. Periode jabatan ke-duanya (2013-2018) telah dilalui hampir 3 tahun. Kondisi Jawa Barat pun relatif kondusif. Cukup banyak prestasi ditorehkan. 92 prestasi telah diukir untuk masa lima tahun terakhir. Namun tak banyak media maupun media sosial yang memblow-up

Bandingkan dengan para pemimpin daerah lainnya. Meski tak terlalu banyak prestasi untuk masyarakat ditorehkan, namun berhasil membuat 'pengakuan' di sosial media. Sehingga dalam 2 tahun terakhir begitu lekat dengan istilah 'pencitraan'. Membuat kerja yang belum seberapa menjadi begitu luar biasa melalui pemberitaan dan penggelembungan citra di sosmed yang luar biasa juga. Para tokoh yang bekerja dalam senyap seperti Kang Aher rupanya 'kurang' memiliki 'nilai jual'.

Kami pun begitu bersemangat menanyakan seputar PON XIX.

Beliau pun hanya tersenyum saat saya tanyakan hal demikian. Mengapa tak memanfaatkan jejaring sosial media untuk memberitakan perkembangan pembangunan Jawa Barat. Sehingga berita-berita yang disajikan bisa seimbang. Namun beliau berharap bahwa dengan diawali dengan media gathering tersebut, masyarakat tahu bahwa ada gawe besar yang sedang disiapkan oleh Pemprov. Jawa Barat.

Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX dan Pekan Paralimpik Nasional (PEPARNAS) XV tahun 2016 akan diselenggarakan di Jawa Barat. Ini adalah pekerjaan yang tidak ringan. Sehingga dibutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk kesuksesan kegiatan tersebut. Kini Kang Aher tak bisa lagi 'bersembunyi' di balik 'kesenyapannya'. Mau tak mau, sebagai Ketua Umum PB PON XIX 2016 beliau harus sering tampil.

Menjawab pertanyaan dengan lugas dan tuntas.

Kunjungan kerja ke daerah (baca: blusukan) yang sudah biasa dilakukan di awal periode pertama jabatannya, kini semakin bertambah. 15 kabupaten/kota dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dipersiapkan sebagai venues berbagai jenis cabang olah raga (cabor) yang memperebutkan 753 medali emas. Hingga salah seorang ajudan beliau (yang tak mau disebutkan namanya) mengatakan bahwa, hari kerja Kang Aher itu adalah Senin hingga Senin berikutnya. Artinya, tak mengenal hari Sabtu dan Minggu untuk libur kerja. Sebab beliau bekerja sepanjang minggu.

Pun demikian kisah dari seorang Satpam yang mengantarkan saya keliling komplek Gedung Sate, "Bapak mah, jarang di kantor, Mas. Paling pas ada agenda terima tamu atau rapat-rapat. Kantor bapak itu di 'luaran'. Nggak tahu, kok nggak pegel ya?"

Saya pun hanya tersenyum sambil manggut-manggut. Pernyataan itu pun terjawab saat acara makan siang. Beliau bercerita kalau barusan usai acara menanam padi. Nah, Kang Aher ini menanam padi beneran lho. Ternyata menanam bibit padi seikat saja sudah ngos-ngosan. Pun begitu saat mencoba menjalankan traktor bajak. Kegiatan yang beliau lakukan bersama Kapolda Jabar dan Pangdam Siliwangi di Desa Kertajaya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung (7/12).

Begitu bercerita tentang perhelatan PON XIX dan PEPARNAS XV 2016, beliau dengan penuh semangat memaparkan semua aktivitas. Mulai dari yang telah, sedang, hingga target pelaksanaan di tahun 2016 nanti. Sangat runtut dan cukup detail selama 1 jam 10 menit. Pertanyaan dari para Kompasianer pun dijawab dengan lugas. Bahkan disila untuk langsung bertanya kepada Kabid. PPM PB PON Jabar, Pak Ateng Kusnandar yang saat itu ikut juga mendampingi, jika dirasa kurang detail.

Izin narsis bersama ya, Kang Aher.

Hingga kami berpisah, sikap ramah tersebut tak juga lenyap. Ajakan foto dari para tamu pun dilayani dengan sangat sabar dan telaten. Sambil memintaa maaf untuk segera meninggalkan tempat. Sebab sudah ada agenda berikutnya yang menunggu di Gedung Sate.

"Ah, kamu memang gitu, Kang Aher," gumamku. Sosokmu memang 'tak punya nilai jual' di depan media atau sosmed. Sebab dirimu lebih menyukai bekerja dalam senyap. Semoga Allah Ta'ala selalu memberkahi seluruh langkah-langkah karyamu demi masyarakatmu dan negeri ini.



4 komentar

Saya pun mengidolakan beliau dalam senyap... sayang kemarin anak2 masih UAS, andai tidak ada tugas negara menanti... kemarin sudah ikut makan siang bareng Kang Aher :(

Semoga lain kali bisa bersilaturrahim dengan beliau, Teh. Pribadi yang hangat dan santun.

Hatur nuhun sudi mampir.

Paling yang hater bilang Hoax hehe

Hidup adalah memilih, Mas Topik. Bagi saya, kacamata mengukur itu adalah nilai kemanfaatan bagi agama, bangsa, dan negara.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon