Selasa, 29 Desember 2015

Lumernya Sop Buntut Depot Karkun Caruban Madiun

Depot Karkun yang tampilannya sangat sederhana. (dok pribadi)


Sahabat Indonesia, menikmati perjalanan Jogja Mojokerto sore ini cukup menyenangkan. Bersama anak sulung saya yang baru Senin (27/12) kemarin menikmati libur semester gasalnya. Alhamdulillah, siang itu cuaca cukup bersahabat. Keberangkatan dari Jogja hampir tak ditemui aral melintang. Meski di beberapa titik, terlihat bekas hujan selintasan.

Seperti biasanya, rute yang saya tempuh adalah Jogja, Solo, Ngawi, Karangjati, Caruban, langsung ke Mojokerto. Tapi sore itu saya putuskan untuk bersilaturrahim ke seorang saudara dai. Di samping silaturrahim, kabar bahwa nikmat masakan di depotnya membuat saya penasaran. Masakan sop iga dan buntutnya sudah saya dengar dari mulut ke mulut.

Nih pandangan dari arah Caruban ke arah Madiun. (dok pribadi)

Nah, untuk menuju Depot Karkun, demikian nama depotnya, kami harus belok kanan terlebih dahulu (arah ke Kota Madiun). Setelah menempuh jarak sekitar 4 km. sampai juga kami ke depot tersebut. Letaknya cuma 'selemparan batu' di depan Kejaksaan Negeri Mejayan (Kab. Madiun). Tepatnya 100 meteran sisi sebelah utara jalan poros Madiun-Caruban. 

Tanpa basa-basi, setelah bercengkerama sebentar datang juga menu idaman saya. Maklumlah, saya pesan makanan tersebut saat masih berada di Jogja pagi tadi. Jika pesan mendadak, Anda harus sedikit sabar. Sebab semua masakan disajikan 'fresh'. Artinya, menu pesanan baru dimasak saat pemesan meminta. Jadi butuh sekitar 15-20 menit untuk menunggu masakan matang.

Seporsi Sup Iga Jamur yang cihuy. (dok pribadi)

Seporsi Sup Buntut yang aduhai yummy... (dok pribadi)

2 menu tersaji di atas meja. Satu porsi Sup Iga Jamur punya anak saya. Satu porsi Sup Buntut pesananku. Lihat tampilan Sup Iga Jamur itu sebenarnya meleleh juga sih. Tapi lihat tongkrongan Sup Buntut yang tak kalah 'perkasa' segera membuat saya ingin menjamahnya.

Daginggnya cukup lumer dan cukup nglenyer dikunyah. (dok pribadi)

Hal istimewa yang sudah disampaikan Pakde Yanto, demikian saya memanggilnya, adalah sup yang dihidangkan insyaAllah sehat. Sehat dalam artian bahwa seluruh masakan menggunakan bahan serta bumbu-bumbu alami. Pantang memberi penyedap rasa, apalagi bahan-bahan pengawet buatan, serta bebas lemak jenuh. Ini dapat dimaklumi, sebab beliau lama tinggal di Jepang dimana menggunakan bumbu masak alami sudah menjadi kebiasaannya.

Hajar terus pokoknya. (dok pribadi)

Dengan harga seporsi Rp. 28.500,- tentu hal ini menjadi luar biasa. Biasanya di rumah makan atau resto sederhana, sop buntut dengan ukuran yang hampir sama dibandrol dengan kisaran harga 50 ribu. Menurut beliau, dengan harga segitu diharapkan masyarakat kelas menengah ke bawah pun bisa menikmati. Daging olahan yang menempel di tulang begitu mudah dilepas dengan sendok. Pun demikian dengan tulang muda yang ada. Cukup nyaman saya kunyah, meski beberapa gigi geraham saya sudah tanggal.

Lihat juga ukuran porsi nasinya. (dok pribadi)

Pesan saya, jika Anda berniat makan di sini, pastikan benar-benar lapar. Sebab porsi sop buntutnya lumayan banyak. Belum lagi bila ditambah nasi yang ukurannya juga cukup lumayan besar. Porsi untuk Sup Iga Jamur juga demikian. Membuat saya harus menghabiskan 'sisa' daging yang tak muat di perut putri saya. Bumbu kedua menu tersebut cukup nancap di lidah. Hangat pala dan kapulaga masih terasa hingga beberapa puluh menit kemudian.

Dagingnya sup iga buat lidah meleleh. (dok pribadi)

Dengan bandrol Rp. 23.000,- rasanya sangat fantastis murahnya Sup Iga Jamur jika sudah pernah mencicipinya. Bukan hanya bau iga atau tulang iga saja yang dipamerkan. Tebalnya daging yang menempel cukup membuat kita berkeringat jika ditambahkan sambal yang disajikan terpisah.

Sahabat Indonesia, kuliner asli Indonesia ini tak ada ruginya kalau mau mencicipi. Jika berpergian ke arah Madiun dari Surabaya atau sebaliknya, baiknya mampir di sini. Sambil tak lupa perhatikan hari bukanya ya. Sebab hari Kamis dan Jumat bukanya mulai jam 13.00 Wib ke atas. Sedangkan selain dua hari itu, buka mulai jam 09.30 Wib.

Krupuk rambak kulit sapi a la Karkun. (dok pribadi)

Oh ya, jika sahabat adalah penggemar krupuk rambak, di sini juga menyediakan krupuk rambak matang lho. Saat ini hampir 75 warung, resto, serta depot yang sudah dikenalkan rambak a la Karkun. Cukup dengan 2 ribu sebungkus, rasa gurih alaminya akan membuat ketagihan. Kebetulan krupuk rambak ini berasal dari daerah saya tinggal, Mojokerto.

Nah, cukup lengkap bukan. Semoga sajian kuliner kali ini bisa menjadi referensi jika sahabat bepergian ke Jawa Timur, khususnya ke Madiun.

3 komentar

Kalau nggak yummy, nggak saya ceritakan Mas. Hihihi...

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon