Kamis, 03 Desember 2015

Melihat Wajah Indonesia Pada Mas Surip

Kondisi kebun bunga Amaryllis kini (02/12)

Sahabat Indonesia, mungkin saat saya tuliskan nama Surip, sahabat tak akan begituh 'ngeh'. Masih tidak 'ngeh' jugakah saat saya tulis dengan 'pemilik kebun bunga Amaryllis Patuk Gunungkidul'? Nah, sosok itulah yang lahannya sempat diacak-acak oleh para penghobi foto. Seminggu terakhir, berita tentang kebun bunga Amaryllis yang semula begitu indah, tiba-tiba menjadi morat-marit menghiasi berbagai media.

Mas Surip, demikianlah panggilan akrab dari Sukadi. Pemilik lahan seluas 3200 m2. Lahan yang mulai dikembangkan di tahun 2014 tersebut, di luar dugaan, kini menjadi begitu terkenal. Selain terkenal karena keindahan bunganya, tentu saja karena kerusakan yang ditimbulkan sehingga menghilangkan keindahan tersebut. Pro kontra pun akhirnya bersileweran diantara para netizen. Saya yakin, sahabat pun pasti menjadi bagian dari yang pro atau kontra tersebut.

Pak Haryo dan Mas Surip sedang berdiskusi tentang lahan kebunnya.

Apalagi pernyataan dari Mas Surip sendiri yang menyatakan bahwa 'ora opo-opo' (tidak apa-apa. Jw.). Sebuah jawaban yang semestinya tidak ditelan mentah-mentah sebenarnya. Tentu saja tidak apa-apa. Lha wong sudah terlanjur rusak sedemikian hebat. Sebagaimana dituturkan kepada saya, beliau sama sekali tidak mengira kalau sampai seheboh itu. Hal ini juga di'amin'kan oleh Pak Haryo (R. Haryo Ambar Suwadi, SH. MSi.), Camat Patuk yang saat itu berbincang bersama kami. Nah, camat inilah yang sesungguhnya 'provokator' sehingga kebun ini menjadi begitu menarik pengunjung (baca: Provokator Dibalik 'Musibah' Kebun Amaryllis).

Nah, ini adalah tanaman bunga Amaryllis yang dijajakan di pinggir jalan.

"Kula mboten punapa-punapa. Saestu niku, Mas. Kula mbiyene nggih mung niati nanem supados mboten punah kemawon. Mboten kepikiran dados terkenal punapa dos pundi mekaten. Kula nanem wiwit taun 2004. Biasane nggih kula sade wonten pinggir margi. Lha menika wonten polybag-polybag (sambil menunjukkan tanaman bunga yang masih dalam wadah polybag)," tuturnya.

[Saya tidak apa-apa. Sungguh, Mas. Saya dulunya meniatkan menanam agar bunga tersebut tidak punah. Begitu saja. Tidak berpikir bahwa nantinya jadi terkenal atau bagaimana. Saya menanam sejak tahun 2004. Biasanya cuma dijual/dijajakan di pinggir jalan. Itu tanaman bunga yang masih di dalam polybag-polybag," tuturnya.]

Ya, demikianlah niat mulia yang kadang 'dibaca' berbeda oleh sebagian orang. Sebagai warga asli Patuk yang beristri perempuan dari Rongkop, Mas Surip masih saja tetap bersyukur. Hikmah yang dipetik dari kejadian yang memilukan tersebut, akhirnya banyak memperoleh simpati dari banyak pihak. Meski untuk sementara penghasilan dari (berjualan) bunga Amaryllis mampet. Beberapa pihak yang perduli, mencoba untuk membantu meringankan beban beliau.

Diskusi santai kami dengan para mahasiswa dan Mas Surip.

Tak urung, Sri Sultan Hamengkubawono X, Gubernur DIY pun akhirnya 'mandap titah' (berbicara. Jw.). Meminta kepada Rektor UGM dan Bupati Gunungkidul untuk memperbaiki, bahkan menjadikan lahan yang rusak tersebut agar menjadi lebih baik. Alhamdulillah, saat kunjungan saya yang ke-dua kali ini, sekaligus bisa menemani para mahasiswa dari Fak. Teknik Pertanian dan Fak. Arsitektur dari UGM.

Para mahasiswa dari Fak. Teknik Arsitektur sedang mencocokkan ukuran.

Menurut mereka, Sri Sultan menghendaki kebun tersebut penataan landscapenya dibuat lebih baik lagi. Bila perlu, bunga yang hanya berbunga sekitar November-Desember ini bisa lebih panjang usia bunganya. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan secara cermat. Ditemani suguhan teh panas serta kacang goreng, kami pun cukup gayeng berdiskusi. Apalagi setelah Pak Camat (demikian panggilan mereka kepada Pak Haryo) hadir pembicaraan pun semakin asyik.

Kesibukkan baru Mas Surip pun bertambah. Selain berpikir bagaimana untuk menata kehidupan ekonomi ke depannya, menjadi 'among tamu' (penerima tamu. Jw) kini menjadi wajib. Sampai-sampai mertua dari Rongkop pun ikut nyengkuyung (membantu. Jw.) langsung. Ikut membantu melayani tamu yang berdatangan mulai dari pagi hingga malam hari. 

Sebagaimana adat Jawa, keluarga Mas Surip tak akan tega untuk menolak tamu. Apalagi yang mau melihat keberadaan kebun bunganya. Meski saat ini, para tamu sudah dapat untuk menahan diri tidak turun ke lahan. Setelah diberitahu bahwa lahan tersebut sedang dalam tahap konservasi. Meski satu atau dua orang masih saja memaksa untuk turun.

Mas Ponijan (tertutup tiang), adik Mas Surip yang lebih banyak menjadi 'juru bicara'.

Sikap Mas Surip tersebut sebenarnya memberi pelajaran kepada kita. Menumbuhkan sesuatu yang baik, tak mesti harus bertujuan untuk memetik materi sebanyak-banyaknya. Justru kadang 'Tangan Allah'-lah yang akan bekerja untuk kita. Ketelatenan beliau dalam merawat tanaman serta keikhlasan untuk melestarikan bunga tersebut, mulai menumbuhkan hasil. Meski beliau sendiri tak dapat mengukur hasil itu secara hitungan materi. Minimal, beliau telah memberikan 'kepuasan' kepada para penikmat bunga di kebunnya. 

Nah, bagi sahabat yang bersedia mengulurkan sebagian rezekinya, mari untuk berbagi dengan beliau. Mas Surip ini tidak memiliki rekening bank, sehingga rekening bank yang digunakan adalah miliki adik kandungnya. Agar mudah menelisik nilai angka transfer, mohon nominal terakhir adalah 2.015. Misal: Rp. 52.015,- atau Rp. 1.102.105,-, dan seterusnya.

Rek. BRI Unit Patuk a.n. PONIJAN no. rekening: 6983-01-000868-53-5

Semoga partisipasi kita tidak sekedar unjuk gigi, unjuk rasa, apalagi unjuk ganteng, atau unjuk cantik saja. Marilah kita mulai berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat. Kita bantu beliau dengan kemampuan yang kita miliki.




2 komentar

hebat sekali yaa beliau,, tetep menghormati tamu meskipun kebunnya berantakan >>>>

Bener nte. Indonesia banget. Tinggal kita saja yg kembali belajar sikap itu kepada beliau. Kembali belajar untuk lebih bijak menghormati karya orang lain.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon