Jumat, 04 Desember 2015

Saya Indonesia, Bung!



Pernah membaca tulisan itu?
Pernah membaca kisah si penulis memoar itu?
Pernah berkenalan dengan sang penulis itu?
Pernahkah sahabat mengandaikan jika sahabat hidup seperti dirinya?


Ya Allah, Ya Karim.
Tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipi ini. Dada menggelegak. Untuk bernafas pun diri ini menjadi sesak. Ampuni dosa-dosa beliau semasa hidup Ya Allah. Betapa besar jasa beliau untuk kehidupan negeri ini.

Sahabat Indonesia, meski hidupmu terserak di akhir hayat. Sejarah tetap akan mencatat dengan tinta emas perjuanganmu. Meski ribuan orang, bahkan jutaan orang menghujat, kami, saya dan keluarga saya tetap menghormatimu. Pahlawan di hati kami. Anak-anak sejarahmu.

Ketika UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika coba dipinggirkan, engkau tetap kukuh merengkuh di dalam dekapanmu. Kaos oblongmu menjadi saksi keteguhan sikapmu. Sarung lusuh yang kau kenakan menjadi saksi perjuangan anak negeri yang pertahankan keyakinan, atas negeri yang siap digadaikan. Sandal karet yang kau kenakan, menjadi saksi atas beratnya pundakmu memikul amanah sebagai pejuang bangsa. Yang harus melindungi anak-anak negeri di depan sejarah kelam yang sempat tertoreh.

Plak!

Diri ini tertampar, Bung! 
Entah berapa juta kali diri ini menyesali keadaan? Berapa juta kali diri ini mengeluh pada negeri yang seolah tak pernah memperbaiki diri. Padahal justru diri inilah yang tak pernah berbenah. Memperbaiki diri. Bersegera untuk membangun semangat membangun negeri. Meski dengan semangat yang pas-pasan.

Diri ini begitu malu kepadamu, Bung!
Yang langsung mengeluh, saat seminggu saja tak mampu makan layak. Padahal entah berapa bulan atau tahun, engkau tak diperlakukan layak oleh bangsamu sendiri. Bangsa yang telah kau bangunkan dan kau sadarkan. Bangsa yang kau besarkan dengan jiwa dan ragamu.

Kini, aku hanya mampu berdoa. 
Semoga Allah Ta'ala memberikan tempat yang terbaik untukmu. Jannatun firdaus. Menjadi syahid yang membela jutaan nyawa anak-anaknya agar tak saling menumpahkan darah.




Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon