Senin, 18 Januari 2016

I AM HOPE: Antara Sebuah Ketidakniscayaan Dan Keberanian

Woman with cancer. (ilustration from iamhopethemovie.com)

Sahabat Indonesia, sebut saja namanya Bu S. Seorang PNS dengan golongan kepangkatan yang cukup lumayan. Seorang sahabat perempuan dengan satu anak yang menjadi single parent sejak tahun 2006 yang lalu. Hidup baginya adalah sebuah tantangan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi dirinya dan manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, beliau cukup disegani oleh kawan-kawan di kantor serta di wilayah kerjanya yang cukup lumayan luas.


Kerja keras dan seluruh pengabdian kepada negeri menghasilkan beberapa prestasi yang cukup fenomenal. Namun seiring dengan raihan prestasi tersebut, sebuah 'badai besar' menghempaskan impian-impiannya. Tubuhnya tak mampu lagi menahan sakit yang rupanya selalu disembunyikan dari khalayak. Hingga pada Agustus 2013, memaksanya harus bed rest total di sebuah rumah sakit tentara di Surabaya. Dokter mengharuskannya untuk sebulan penuh istirahat total, termasuk 2 minggu selama di RS.

Saat itu, dokter belum menyatakan diagnosa penyakit yang menimpanya. Hingga 2 bulan kemudian setelah masa observasi dinyatakan bahwa beliau terkena kanker serviks stadium IV. Allahu Akbar...hanya kata tersebut yang sempat terucap dari muluta kami, saya dan umminya anak-anak. Ada rasa pedih menghujam di hati kami. Entahlah, mengapa semua itu terasa begitu lambat kami sadari.

Saat beliau sering mengeluh mengalami flek, sudah berulang kali untuk saya sarankan segera melakukan general check-up. Tapi dengan alasan sibuk di kantor dan kegiatan organisasi, saran saya tak begitu dihiraukan. Apalagi semangat untuk segera menyelesaikan program doktoralnya di sebuah PTN di Kota Malang. Hal iti seolah tak begitu dihiraukan. Alasan lainnya bahwa beliau telah melakukan terapi herbal rutin. Flek-nya pun tak begitu sering kambuh.

Hingga pasca dirawat di RS barulah beliau secara rutin mau untuk 'berurusan dengan medis'. Istilah dulu yang tidak begitu beliau sukai. Segala macam terapi medis telah dilakukan. Termasuk 3 kali operasi pun telah dilakukan. Rasa sakit sepertinya begitu akrab dengannya. Saat kondisi badan mulai membaik, aktivitas dibuat 'senormal' mungkin. 

Puncaknya adalah ketika di Februari 2015, rasa sakit itu tak lagi bisa menipunya. RS pun menjadi terminal terakhir harapannya untuk sembuh. Hingga suatu malam perdarahan hebat pun tak dapat dielakkan. Berbagai macam upaya medis telah dilakukan. Namun rupanya Allah berkehendak lain. Nyawanya pun tak tertolong lagi. Innalillahi wa innailaihi raji'un.

Catatan panjang tentang perjuangan seorang perempuan hebat akhirnya harus ditutup. Di usia ke-53, beliau harus tinggalkan keluarga, handai taulan, serta sahabat-sahabat yang begitu menyayanginya. Di bulan yang seharusnya beliau bisa menghadiri wisuda doktornya di PTN Kota Malang. Ternyata menurut penuturan putri angkatnya, di bulan Desember beliau telalu memforsir dirinya untuk 'maju' ujian disertasinya. 

Selamat jalan sahabat luar biasaku. Semoga Allah Ta'ala berikan sorganya untukmu.

______________________________

Kisah para pejuang kanker yang luar biasa. Sebagaimana kisah seorang sahabat saya itulah mungkin yang menggerakkan para seniman dan sineas Indonesia muda ini untuk menunjukkan empatinya. Lewat film 'I AM HOPE' menjadi salah satu rangkaian dari para pejuang harapan  (Warriors of Hope). Gerakan yang sebelumnya diinspirasi oleh 3 perempuan cantik (Wulan Guritno, Jannah Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah) pada Oktober 2015 bergulir dengan sangat cepat.

Ghea Panggabean yang merupakan seorang desainer internasional pun ikut terpanggil. Menjadi salah satu motor gerakan untuk memberikan dukungan bagi para penderita kanker dan keluarganya tersebut. Maka diciptakanlah "Gelang Harapan" (#BraceleofHOPE), dimana bahannya berasal sisa kain jumputan yaitu Kain Pelangi Jumputan. Pelangi dipilih karena menjadi simbol 'harapan'.

Selanjutnya gerakan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Gerakan +Gelang Harapan . Gerakan yang terus berupaya untuk merengkuh sebanyak mungkin para relawan yang berempati untuk menumbuhkan harapan. Harapan bagi para penyandang kanker dan keluarganya. Gelang yang dijual dengan harga Rp. 100.000,- ini pun seluruh hasil penjualannya didedikasikan untuk kegiatan charity tersebut.

Untuk lebih menyebarkan gaung kampanye peduli tersebut media film pun akhirnya menjadi salah satu pilihannya. 'I Am Hope' film drama yang disutradarai oleh Adilla Dimitri yang naskahnya ditulis oleh sahabatnya, Renaldo Samsara. Sementara produsernya adalah Wulan Guritno. Film yang diproduksi oleh Alkimia Production ini sedianya akan dirilis pada 4 Februari 2016. Tanggal yang bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia. Namun karena beberapa hal, maka film ini akan ditayangkan serentak pada tanggal 18 Februari 2016 di seluruh bioskop nasional.

Film ini melibatkan talenta muda Tatjana Saphira dan mendaulat artis berpengalaman Tio Pasukodewo, Ray Sahetapy, Fachri Albar, dan Fauzi Baadillah untuk beradu akting. Film dengan genre drama ini mnegisahkan tentang Mia (Tatjana Saphira) yang harus menghadapi penyakit mematikan, kanker di usia yang belia. Mia yang kondisinya demikian berusaha dijaga dengan sebaik mungkin oleh 2 orang yang dicintainya, ayahnya (Tio Pasukodewo) dan saudarinya (Alessandra Usman).

Hingga pada satu ketika, karena kondisi Mia yang sangat lemah membuat pingsan. Bed rest menjadi pilihan mutlak yang harus dijalaninya sesuai anjuran dari sang dokter (Ray Sahetapy). Yah, kondisi Mia tersebut disebabkan keinginannya yang kuat untuk mewujudkan satu harapannya untuk menggelar satu pentas teater. Semangat yang luar biasa itu pula yang membuat terkapar.

Melihat kondisi Mia yang demikian, akankah harapannya tersebut terwujud? Ketidakniscayaan yang mungkin bergelayut di benak orang-orang yang mencintainya tersebut, akankah menjadi kenyataan? Akankan keberanian  untuk mewujudkan harapan itu bisa melawan ketidakniscayaan tersebut?



Kamu harus lihat gelang ini. Karena dimana ada keberanian, di situ ada harapan.

Nah, biar tidak penah saran, jangan lupa untuk bersama-sama menyaksikan film I Am Hope bersama orang-orang yang Anda sayangi. Catat tanggal tayang perdananya di Kamis, 18 Februari 2016. Jangan sampai ketinggalan!


15 komentar

Sedih ya kalau ada yang terkena kanker :(. Semoga mereka diberi kekuatan dan kesembuhan. Amin

Aamiin.
Sedih memang ya. Tapi seringkali saya menaruh rasa hormat yg dalam kpd mereka. Terutama para pejuang kanker yg begitu luar biasa untuk menggapai harapan yg belum dicapainya. Sebab mereka pikir, harus melakukan yg terbaik 'di sisa' usia mereka.

Sedih bgt cerita ibu S. Kanker serviks sama kanker payudara memang menjadi momok bagi perempuan.makanya harusnya cek up tiap tahun lewat papsmear dan sadari.hiks..

Kanker jadi momok, tapi apalah daya kalau kita sudah menjadi bagiannya. Semoga saudara-saudara kita tetap semangat dan ini jadi salah satu semangatnya

Saking sibuknya mungkin beliau, sehingga melupakan kondisi kesehatannya sendiri.

Nah, kita pun bisa menjadi bagian dari Warrior of HOPE itu, Mbak Rian. Minimal kita ikut menyebarkan pesan-pesan baik penggugah semangat.

penasaran ingin segera nonton filmnya I am hope.

Ternyata kita punya kisah tentang kanker dengan orang berinisial sama, di sini Bu S, di kisahku Mba S. Smoga semangat dan harapan mereka yang luar biasa ini memberi mereka tempat dan cerita indah di sana ya..aamiin

Film ini memberikan kita kesadaran akan pentingnya membantu sesama :) banyak sekali makna cerita dalam film ini. Baru liat trailernya aja udah bagus, apalagi full film nya dibioskop :D

Nunggu sebulan lagi ya. hehehe...

Bu S, tidak sempat mengikuti yudisium dan wisuda doktoralnya. Tapi semangat beliau begitu berkesan bagi kami sahabat, mahasiswa, serta siswa-siswanya.

Film dengan pesan-pesan moral seperti ini, pasti akan menemukan jalan yg baik di mata penikmatnya.

Belajar dari Bu S, dari I am HOPE, semoga makin banyak yang tersadarkan bahwa penting sekali menjaga kesehatan dan menjalani medical check up meski tidak divonis sedang sakit.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Nah, pelajaran bagi kita agar kita lebih aware dg tubuh kita sendiri.

Terima kasih Mbak Phie.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon