Senin, 11 April 2016

Soto Bu Siti, Harga Manis Rasa Narsis

Warung Soto Bu Siti salah satu warung soto favorit saya di Mojokerto.

Mumpung suasana langit cukup bersahabat. Lepas kajian rutin Ahad pagi (10/4), saya putuskan untuk manfaatkan pagi ini untuk berkunjung Trowulan. Ada beberapa sahabat yang perlu saya datangi untuk silaturrahim. Maklumlah, sejak aktivitas yang terbatas efek kecelakaan awal bulan Maret kemarin, acara kunjung-mengunjung pun tidak intens saya lakukan.


Jika ditempuh dari jalan raya Surabaya-Madiun, jarak ke Trowulan tidaklah jauh. Hanya 3 km. saja. Namun karena sedikit trauma, saya putuskan untuk melewati jalur 'dalam'. Jalur alternatif Mojokerto-Jombang yang biasanya cukup padat di liburan panjang atau hari raya. Kebetulan di jalur tersebut ada sebuah warung soto favorit langganan saya.

Warung Bu Siti, demikian nama warung PK5 sederhana itu. Menyediakan 2 macam soto yang keduanya rasanya cukuplah enak di lidah saya. Letaknya sangat mudah dijangkau. Letaknya tepat di seberang SDN Modongan. Jaraknya hanya 1,5 km dari pertigaan Sambiroto, Sooko, Mojokerto. Kalau hari Sabtu atau Minggu pagi, dapat dipastikan para pengunjung cukup ramai. Maka jika datang siangan sedikit, seringkali kehabisan stok.

Ukuran yang cukup wah.

Seporsi soto babat/daging atau soto ayam cukup merogoh kocek 10 ribu saja. Ukuran mangkuknya jumbo dan isinya pun tak akan mengecewakan. Irisan dagingnya cukup besar dan tebal. Demikian juga dengan soto ayamnya. Ini menjadi salah satu daya tarik bagi para pelanggannya.

Kuah sotonya tidak terlalu keruh (karena lemak atau kaldu). Rasanya cukup menggigit bagi mereka yang menyukai masakan khas Jawa. Menurut Mbak Siti, demikian saya biasa memanggil sang owner, tidak banyak menggunakan penyedap rasa. Lebih memilih penyedap rasa alami agar rasa bumbunya lebih awet. Sekaligus kuahnya juga lebih tahan lama jika tidak dipanaskan.

Harga yang dipatok dengan rasa yang narsis, rasanya cukup murah menurut saya. Meski menurut 'selera desa' harga tersebut termasuk cukup mahal (?). Tapi inilah Indonesia. Di sekitaran warung memang ada yang menawarkan dengan harga 6 ribu rupiah. Ngerih banget bukan? Tapi entahlah rasanya. Hehehehe...

Alhamdulillah, menuntaskan sampai butir nasi terakhir.

Singkat cerita, tak sampai 1/4 jam tuntas juga tugas saya untuk mengeksekusi seporsi soto ayam. Ditambah dengan jeruk hangat seharga 3 ribu rupiah. 4 potong krupuk @Rp. 500,- pun ikut tandas sorak-sorak bergembira di dalam perut. Nah, cukup dengan Rp. 15.000,- saja badan ini siap untuk tunaikan tugas bersilaturrahim sekaligus tadabbur alam.

Mau ada yang coba? Boleh kontak dan ajak saya biar tak tersesat lho. Hihihihi....

6 komentar

Bablas tak bersisa tuh soto Mas..hehehe, kayaknya enak ya..

Wah manteb dong mangkoknya gede klo soto semarang mangkoknya seuprit jd ga nendang blas

Laper euy baca artikel soto ini siang2, pulang kantor musti mampir cari soto nih... hehehe

Harus habis biar gak mubazir. Apalagi kalo rasanya cihuy...

Makanya, gak begitu cocok sama soto Semarang n soto Kudus.
Mangkuknya seuprit sih. Hihihi....

Soto Bu Siti ini, sekilas bumbunya mirip-mirip soto Lamongan.
Tapi bumbu dari gula kelapanya tipis terasa. Apalagi kalo ditambahkan perasaan jeruk nipis. Tambah wow rasanya.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon