Rabu, 01 Juni 2016

Pancasila Jayati



Hari ini tanggal 1 Juni 2016. Untuk yang ke-71 kalinya bangsa ini memperingati apa yang (kemudian) dinamakan "Hari Lahir Pancasila". Peringatan secara sosial pun dilakukan. Tak lupa yang punya kepentingan politik juga tak mau ketinggalan. Pancasila seolah-olah menjadi benang merah antara penguasa dan siapa yang mau dikuasai.

Padahal sejatinya, Pancasila itu sejatinya telah hadir berabad-abad lampu di gua garba bumi Nusantara ini. Menjadi soko guru ideologi kelangsungan kerajaan-kerajaan Nusantara yang telah mendunia. Tulisan dari sahabat Deddy Endarto ini layak untuk kita cermati. Menjadi referensi yang ke-sekian dari referensi yang sudah pembaca miliki.


-------------------------------------

PANCASILA telah kita sepakati sebagai IDEOLOGI atau DASAR NEGARA. Banyak yang berpendapat itu dilahirkan di era pergolakan menjelang  kemerdekaan Indonesia. Tapi izinkan saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa sesungguhnya "Tata Nilai dari Pancasila" sudah dimiliki oleh bangsa ini sejak ribuan tahun silam bersama cerita katauladanan GARUDEYA.

Lima (5) aturan kesempurnaan mahluk dalam peri kehidupan sesungguhnya bersifat universal adanya. Bukan dimiliki oleh kelompok atau golongan tertentu. Ketika semua nilai-nilai kehidupan itu diperas akan menyisakan lima nilai utama dan itu pula yang tercermin dalam PANCASILA moderen milik kita saat ini.

Sebagai pemerhati sejarah dan budaya, saya melihat tata nilai Pancasila sudah lahir ribuan tahun lalu di Gunung Pawitra atau yang sekarang lebih dikenal dengan Gunung Penanggungan. Di atas kawasan itu sempat terjadi perebutan pengaruh keagamaan dan berakhir dengan cerita manis tentang toleransi beragama guna menjaga kepentingan semesta. Sebagai kawasan tempat pendidikan keagamaan, ada yang menarik bahwa ada pencerahan yang sama pada semua kedewaguruan dari agama itu setelah memeras tata nilai kehidupan semesta. Semuanya merujuk pada nilai yang sama sekalipun berbeda bahasa untuk digunakan sebagai tata cara atau panduan hidup.

Di Gunung Perwara SARAHKLOPO yang dikenal dengan area KARESYAN (agama/kepercayaan Kejawen), mereka menyebutnya PANCA KOWARA. Di Gunung Perwara KEMUNCUP (agama Budha), mereka menyebutnya dengan PANCA SILA BUDHA. Di Gunung Perwara GAJAHMUNGKUR yang dikenal sebagai area KABUYUTAN (pemujaan kepada kebesaran leluhur), mereka menyebutnya dengan PANCA MUKTI WIBAWA. Bahkan di kawasan gunung itu digelari sebagai PANCA WALIKRAMA. Itu terjadi sejak abad ke-8 hingga abad ke-15.

Maka dapat disimpulkan bahwa kita ini masih teguh mewarisi ajaran pendahulu kita, apapun agama dan keyakinannya, yang mewariskan tata nilai terbaik bagi seorang mahluk dalam menjalankan takdir hidupnya di atas semesta. Lima tata nilai yang dihasilkan dari pemerasan jutaan tata nilai yang ada. Dan bila dibalik dari lima bisa melahirkan jutaan tata nilai lainnya.

Bangsa ini pernah juga berusaha memeras tata nilai PANCASILA  menjadi TRISILA ataupun EKASILA. Namun berakhir dengan kegagalan tragis karena justru kehilangan sifat adil dan keseimbangannya. Mau ataupun tidak mau PANCASILA itulah yang dianggap mampu mengakomodasi sifat dasar kehidupan yang universal, untuk kita aplikasikan dalam menjalankan kehidupan.

Apakah PANCASILA sejatinya lahir pada tanggal 1 Juni 1945?


PANCASILA moderen mungkin ya. Namun PANCASILA SEJATI itu lahir bersamaan dengan kesadaran mahluk atas tujuan kehidupannya sejak ribuan tahun yang lalu. 

Selamat menjadi mahluk Nusantara yang sempurna dengan berpedoman kepada PANCASILA.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon