Selasa, 26 Juli 2016

Film Untuk Angeline, Pesan Penting Untuk Semua Orang Tua

Salah satu adegan film Untuk Angeline. (dok. pribadi)

Setiap anak yang lahir ke dunia, berhak untuk mendapatkan perlakuan layak dari orang tuanya. Setiap anak yang lahir ke dunia, akan mencatat  kisah hidupnya dalam benak hatinya. Namun sayang, seorang anak yang bernama Angeline tidak mendapatkan perlakuan yang semestinta. Sehingga catatan kelam dalam benaknya pun akhirnya tak mampu ditanggung lagi.

Sepenggal kisah dari film "Untuk Angeline" yang diangkat dari kisah nyata ini menyadarkan kita, bahwa berjuang dalam mengaruni bahtera kehidupan ini memang tidaklah mudah. Tanggal 21 Juli 2016 dipilih untuk lebih memperdengarkan gaungnya dalam rangka momen Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 2016. Hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun mendukung penuh film ini.




Data Film

Poster film Untuk Angeline. (dok. XXI Cinema)

  1. Judul: UNTUK ANGELINE
  2. Kode M-TIX: untuk dewasa (17+)
  3. Jenis Film: drama.
  4. Produser: Duke Rachmat dan Niken Septikasari.
  5. Sutradara: Jito Banyu.
  6. Penulis: Lele Laila Nurazizah
  7. Produksi: Citra Visual Cinema
  8. Pemain: Kinaryosih, Naomi Ivo, Teuku Rifku Wikana, Roweina Umboh, Hans de Kraker, Reybong, Dewangga, Audrey.

Sinopsis

Di hadapan hakim, Samidah hanya bisa meratap pedih. (dok. pribadi)

Dibuka dengan proses pengadilan yang sedang memeriksa Samidah. Salah seorang saksi kasus pembunuhan anak, Angeline. Samidah adalah ibu kandung dari Angeline yang saat itu dihadirkan sebagai saksi. Kemudian cerita flashback saat bayi Angeline dilahirkan oleh pasangan Samidah (Kinaryosih) dan Santo (Teuku Rifku). Pasangan suami istri asal Banyuwangi yang mencoba peruntungan nasib di Pulau Bali. 

Kondisi Santo yang merupakan kuli bangunan, tak memungkinkan dirinya untuk membayar biaya persalinan. Sehingga saat muncul pasutri bule John (Hans de Kraker) dan Terry (Roweina Umboh) maka niatan untuk 'menjual' bayinyanya pun muncul. Gayung bersambut. John yang menginginkan anak perempuan pun langsung menerimanya. Kemudian memberi nama bayi mungil tersebut Angeline.

John, ayah angkat yg amat mencintai Angeline. (dok. pribadi)

Kisah bergulir dengan kehidupan Angeline anak-anak yang hidup bahagia dengan ayahnya. Tapi sikap kebalikan diterima dari ibu (angkatnya) yang tak menyukai kehadirannya. Sementara itu, untuk melupakan kepedihan hidupnya, Samidah pun merantau ke Jakarta. Bekerja kepada sebuah keluarga sebagai pengasuh bayi. Hingga dosa yang selalu mengejar kehidupannya, memaksanya untuk segera kembali ke Bali.

Di sisi lain, kebahagiaan Angeline (Naomi Ivo) bersama sang ayah akhirnya terenggut. Saat kematian John menjadi awal rangkaian penderitaannya. Siksaan demi siksaan diterima dari ibu angkat serta saudara angkatnya sepanjang waktu. Namun karena ancaman ibu angkatnya, dia menyembunyikan segala deritanya tersebut dari teman-teman sekolah, guru, hingga tetangganya. 

Nasib tragis pun tak terhindarkan. Di ujung siksaan yang berat, Angeline menghembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu kandung yang sudah sampai di Bali pun hanya mampu bertemu anaknya saat sudah terbujur kaku di kamar mayat. Beban yang teramat berat setelah mengetahui Santo telah menikah (lagi) saat dia bekerja di Jakarta. 


Review

Film "Untuk Angeline" yang diinspirasi dari kisah nyata ini rupanya cukup berhasil menguras air mata. Nilai-nilai humanisme yang diusung cukup menyentuh perasaan kita. Terutama untuk mereka yang berstatus 'orang tua'. Menangkap peristiwa demi peristiwa yang tersaji seolah kita ikut berperan di dalamnya. Bebarapa nilai yang dapat kita tangkap diantaranya adalah:
  1. Pentingnya orang tua menyiapkan mental, fisik, serta materi dalam menghadapi persalinan. Faktor biaya bukanlah hal yang sepele. Oleh karena itu, jauh-jauh hari perlunya persiapan finansial yang matang, minimal menyiapkan asuransi untuk persalinan.
  2. Menjadi orang tua pengganti (angkat/asuh/tiri) bukanlah satu perkara yang mudah. Persamaan persepsi dan kesiapan mental terhadap pola asuh anak menjadi komitmen awal bagi orang tua pengganti. Sehingga salah satu pihak (istri atau suami) tidak merasa disepelekan dalam setiap pengambilan keputusan menyangkut anak (angkat/asuh/tiri).
  3. Sekolah bukanlah tempat untuk 'menyembunyikan' masalah anak. Sehingga diperlukan komunikasi tiga arah antara siswa, guru, dan orang tua.
  4. Kepedulian lingkungan terhadap tetangga satu dengan yang lain, akan menjadi tindakan preventif bagi berbagai macam bentuk tindakan kejahatan anak maupun perempuan.
Maka cukup tepat bagi para orang tua untuk sejenak meluangkan waktu untuk belajar terhadap setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Menyaksikan film ini, akan menggugah semangat kita untuk lebih berempati terhadap lingkungan yang ada. Terutama mengamati setiap perubahan perilaku sosial dalam masyarakat di lingkungannya. Demikian juga dapat memantau bagaimana pola perkembangan anak-anak di sekitarnya. 

Meski demikian, dibalik kisah yang mengharu-biru, ada dua catatan juga cukup mengganggu. Dua catatan yang sempat saya temui diantaranya:
  1. Secara teknis, rumah sakit tak akan akan membiarkan begitu saja orang lain (selain orang tua atau kerabat pasien) membawa bayi baru lahir ke luar ruangan perawatan bayi tanpa pendampingan paramedis (bidan/perawat), apalagi ke luar rumah sakit.
  2. Alur cerita seperti ada yang terkesan dipaksakan. Dimana Santo yang akhirnya menikah (lagi) tanpa sepengetahuan Samidah. Apalagi rumah yang ditempati oleh pasangan ini adalah rumah Samida.
  3. Ending film, yang terkesan 'tidak nyambung'. Padahal jika ending dibiarkan 'mengambang' tentu akan lebih membuat penonton penasaran untuk menerka/menebak akhir kisahnya.
Kelemahan yang nampak tersebut secara umum tidak terlalu mengganggu ide keseluruhan cerita. Oleh karena itu, mumpung jaringan XXI masih menayangkan, tak ada ruginya untuk bisa menikmati sajian film ini. Apalagi jika bisa menonton bersama suami atau istri masing. Tentu akan menjadi bahan menarik untuk didiskusikan setelah menonton.





2 komentar

salah satu film terbaik Indonesia
semoga banyak yg tergerak untuk melihatnya

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon