Minggu, 06 November 2016

Hotel Selamet, Jangan Lihat Isi Dari Bungkusnya

Penampakan Hotel Selamet dari depan. (dokpri)


Sahabat Indonesia. Untuk ke-sekian kalinya saya mengunjungi Banyuwangi. Kabupaten yang tumbuh secara luar biasa sebagai kota budaya, wisata, dan festival. Di tangan Bupati Abdullah Azwar Anas, Banyuwangi seolah 'disulap' menjadi daerah sangat layak jual. Berbagai inovasi dilakukan untuk mengangkat berbagai potensi lokal yang ada. Tak heran, dalam kurun waktu empat (4) tahun saja, puluhan penghargaan nasional maupun internasional diraih oleh Kabupaten Banyuwangi. Dominasi untuk inovasi pengembangan potensi wisata menjadi garis bawahnya.


Oleh karena itu, losmen maupun hotel pun kini tumbuh bak cendawan di musim hujan. Losmen-losmen banyak melakukan renovasi untuk mensejajarkan diri menjadi hotel yang layak inap. Salah satunya adalah Hotel Selamet. Ketika tahun 2013 yang lalu, saya mengenal Selamet adalah losmen. Kini berhias total menjadi hotel bintang dua (2) yang siap menjamu tamu/wisatawan lokal maupun manca.

Pintu masuk menuju lobby/resepsionis. (dokpri)
Meski tak terlalu luas, lobbynya cukup nyaman. (dokpri)

Letak hotel yang cukup strategis di Jl. Kapt. Pierre Tendean No. 89, ini membuat tamu mudah untuk menjangkaunya. Angkutan umum berupa angkot beroperasi melewati hotel ini di pagi hingga sore hari. Jika malam hari, cukup dengan 15 ribu saja, Anda bisa menuju hotel ini dari terminal Blambangan atau perempatan Samsat Banyuwangi (pom bensin). Demikian juga bila ingin jalan-jalan ke Kantor Bupati Banyuwangi maupun Pendopo Kabupaten dan Alun-Alun (Taman Blambangan maupun GOR Tawangalun) cukup merogoh kocek 10 ribu rupiah saja. Ongkos yang cukup terjangkau bukan?

Kualitas kasur baik, membuat bobo cukup nyenyak. (dokpri)

Nah, gelaran #internetBAIK chapter IX Banyuwangi mengantarkan saya selama tiga (3) hari menginap di sini. Kamar 312 yang merupakan kamar paling ujung timur di lantai 3 yang penulis tempati. Meski tampilan luar hotel terlihat kaku dan masih kelihatan kuno, namun interior kamar tidaklah terlalu mengecewakan. Double bed standar mengisi kamar dengan almari, tv LCD, serta AC. Kamar mandi juga bagus dengan fasilitas air hangat/panas yang baik.

Furniture set cukup lumayan nyaman dipandang. (dokpri)

Namun cukup disayangkan adalah masih belum adanya tanda arah kiblat. Serta komplen yang disampaikan kepada resepsionis tidak ditanggapi dengan baik. Termasuk saat menyampaikan keluhan tentang tidak adanya nomor informasi di perangkat telepon. Padahal untuk hal teknis yang sebenarnya sepele tersebut, bagian teknik bisa mengatasi dengan cepat. Demikian juga untuk penggantian tisu gulungan di closet.

Alternatif sarapan selain nasi. Yg ini enak. (dokpri)
Bagian resto yg asyik untuk kongkow. (dokpri)

Sementara untuk menu sarapan di resto cukup lumayan. Hanya menu nasi goreng selama tiga (3) hari terasa kurang sreg. Hari pertama, nasi telah dingin saat disajikan. Padahal tekstur keras terasa kurang nyaman di lidah. Untuk hari ke-dua, nasi terasa agak keasinan dan masih saja tidak diberikan pengapian (untuk penghangat). Variasi nasi goreng sebenarnya bisa digantikan  menu yang lain, misal nasi tempong. Sebab menu tersebut adalah salah satu menu tradisional khas masyarakat Osing Banyuwangi.

Namun secara keseluruhan, pelayanan cukup baik. Penulis sedikit memaklumi, perubahan ritme dari losmen menuju hotel berbintang tentu membutuhkan waktu. Termasuk bagaimana mengelola laundry, free wifi yang ternyata tak sampai di lantai 3, hingga manajemen penanganan komplen. Oh ya, jika mau reservasi, sudah bisa dilayani via Traveloka lho. 




Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon