Senin, 05 Desember 2016

Masalah Klise Seputar HIV/AIDS

Para nara sumber yang cukup interaktif. (dok. Richo)

Untuk pertama kalinya, Peringatan Hari Aids Se-dunia secara nasional dilakukan di luar Jakarta. Kali ini Kota Surabaya mendapatkan kehormatan untuk pertama kalinya menggelar perhelatan tersebut. Tentu hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Timur. Mengusung tema "Mari Kita Berubah, Masa Depan Gemilang Tanpa Penularan HIV", puncak acara digelar pada 1 Desember 2016 di Grahadi Surabaya yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek dan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.


Kali ini Kementerian Kesehatan RI juga tak lupa menggandeng beberapa puluh blogger. 25 orang blogger dari Surabaya, Malang, dan sekitarnya dilibatkan dalam Temu Blogger Kesehatan yang mengambil tema "Menuju Indonesia Sehat". Acara yang diselenggarakan di Hotel Tunjungan pada siang hari (1/12) dihadiri oleh empat (4) orang nara sumber, yaitu:

  1. dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes., Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kemkes RI.
  2. drg. Oscar Primadi, MPH., Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemkes RI.
  3. drg. Ansarul Fahrudda, MKes., Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan Dinkes Jatim, dalam hal ini mewakili Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr. Kohar Hari Santoso yang berhalangan hadir.
  4. Muhammad Farid Hafifi, dari LSM Mahameru yang bergerak dalam pendampingan ODHA di Jawa Timur.
Para peserta yg antusias mendengarkan paparan pemateri. (dok. Richo)

Acara yang dimulai pada pukul 13.15 Wib berlangsung dengan sangat menarik. Paparan-paparan dari para nara sumber berhasil memancing 'kekepoan' para peserta untuk memperoleh informasi dengan lebih dalam. Sebab sebagaimana tujuan acara, diharapkan para blogger dapat menjadi 'penyambung lidah' dalam memberikan informasi tentang visi dan misi Kementerian Kesehatan RI untuk pencapaian derajat kesehatan yang baik, khususnya bagaimana pencapaian penatalaksanaan penanggulangan HIV/AIDS selama ini yang telah dilakukan.

Meski belum dibuka sesi tanya jawab, para nara sumber pun tak keberatan untuk bertanya seputar topik yang disampaikan. drg. Oscar Primadi, MPH., mengenalkan portal Sehat Negeriku. Germas adalah gerakan untuk mencegah penyakit tidak menular dengan pola hidup yang sehat. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang diusung oleh Kemenkes RI yang berusaha melibatkan seluruh stake holder kesehatan, baik dari unsur pemerintah, LSM, lembaga swasta lain, kelompok sosial kemasyarkatan, serta masyarakat itu sendiri. Dimana setiap individu warga negara berhak dan wajib untuk mengetahui bagaimana cara menjalankan pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat di dalamnya adalah termasuk menyadari diri akan bahaya penyakit menular serta bagaimana cara untuk menghindarinya.

Sesi tanya-jawab yg cukup gayeng. (dok. Richo)

Sementara itu, dr. Wiendra Waworuntu menyampaikan progres tentang bagaimana pencegahan serta penganggulangan penyakit HIV/AIDS yang kini tengah menjadi perhatian penuh. Masyarakat didorong untuk melakukan tes serta mencegah dan pencanangan slogan "TOP". Temukan pasien HIV sesegera mungkin, Obati ODHA dengan ARV, dan Pertahankan pengobatannya. Sebab sebagaimana diketahui meskipun HIV/AIDS bukanlah penyebab kematian tertinggi (masih dipegang oleh 9 penyakit katastropik), namun biaya pengadaan obat ARV serta penunjang laboratorium itu sendiri sudah cukup tinggi. Belum lagi fenomena 'puncak gunung es' yang sangat dikhwatirkan. Sebab antara jumlah penderita HIV/AIDS yang ditemukan dengan yang masih belum ditemukan dikhawatirkan menjadi 'bom waktu' di masa 10 hingga 20 tahun yang akan datang.

Hal ini pula yang diungkapkan oleh drg. Ansarul Fahrudda, bahwa menggerakkan potensi unit kesehatan di bawah jajarannya bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Berkaca pada penemuan kasus TB(C) yang banyak menemui kendala teknis di lapangan. Belum lagi menyangkut anggaran yang serba terbatas, sehingga petugas tidak bekerja secara maksimal. Sebagai salah satu provinsi dengan tingkat penyebaran virus tertinggi nomor 2 pada tahun 2015 secara nasional (4.155 kasus), tentu hal tersebut menjadi perhatian penting bagi seluruh masyarakat. Keterlibatan aktif masyarakat untuk pro aktif menemukan penderita HIV (baru) tentu akan memberi peluang 'harapan hidup' bagi penderita serta orang-orang di sekitarnya memiliki potensi untuk tertular.

Peran serta LSM untuk membantu fasilitasi ODHA juga masih terbatas ruang lingkupnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh LSM Mahameru, yang pada tahun 2016 ini baru mampu mengcover 50-an pasien penderita HIV/AIDS. Hal ini tak lepas dari personal yang terbatas. Ditambah lagi anggaran yang harus digali secara mandiri untuk menutup biaya  operasional pendampingan pasien yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Masalah-masalah yang sebenarnya sudah lama teridentifikasi dan telah dapat dipetakan, namun masih saja menemui kendala teknis di lapangan.

Wah, ada pemenang livetweet juga ya? (dok. Richo)

HIV/AIDS yang masih menjadi tabu seolah menjadi 'lagu wajib' yang selalu kita nyanyikan dalam setiap peringatan hari AIDS se-Dunia, 1 Desember. Maka di sinilah peran para blogger untuk selalu tetap mendorong setiap usaha positif yang dilakukan dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Memberitakan setiap progres program kerja penanggulangan HIV/AIDS khususnya, dan progres program kerja Kementerian Kesehatan RI pada umumnya.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon