Jumat, 09 Desember 2016

Sisi Lain Pasar Beringharjo Jogjakarta

Ikon baru Pasar Beringharji. (dok. pribadi)
Berkunjung ke Jogja, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan waktu untuk menengok salah satu ikon fenomenal ini. Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terus bersolek untuk menyambut para pedagang, pembeli, atau pengunjung yang sekedar pingin narsis di sana-sini. Sebagaimana halnya, kami yang mencoba mengeksplor sisi lain yang tidak biasa.


Sengaja hadir untuk melihat ‘nafas kehidupan’ pasar dimulai. Jam tujuh pagi, cukuplah bagi kami, saya dan putri sulung saya. Mengenalkan eksotisme Pasar Beringharjo sebagai salah cagar budaya yang tak boleh terlewatkan sebagai ‘Wong Yogja’. Jika ulang tahun biasanya dirayakan dengan sebuah perayaan atau ucapan khusus, maka tidak demikian dengan keluarga kami.

Bangunan lama sebagai cagar budaya. (dok. pribadi)

Nah, kami punya cara khusus untuk ‘merayakan’. Yaitu mengisi waktu dengan belajar. Sebab setiap pertambahan usia detik demi detik sudah seharusnya menjadi sesuatu yang berarti. Sesuatu yang memberikan manfaat kepada siapa saja. Seperti pagi kemarin yang kami coba untuk lebih dekat dengan para  pedagang yang menyiapkan diri membuka gerai/tokonya.

BH 50 ribu dapat 3 ada di sini lho. (dok. pribadi)

Berdagang adalah denyut nafas kehidupan keluarga kami. Maka tak heran jika si sulung kami pun telah merintis jualan ‘kecil-kecilan’ di dalam lingkungan pesantren. Meski sempat sekali ‘tertangkap basah’ melakukan transaksi yang berakibat harus dihukum. Yups, peraturan di pesantren memang ketat untuk urusan jual beli. Sebab sudah ada warung/toko pesantren untuk melakukan transaksi jual beli.

Oh ya, Pasar Beringharjo ini sudah beberapa kali mengalami renovasi dan rehabilitasi. Baik pada bangunan utama (gerbang dan bangunan awal), hingga penambahan gedung/blok baru di bagian belakang. Pasar yang dibangun mulai Maret 1925 dan selesai pada akhir Agustus 1925 ini pada awalnya adalah sebuah ‘pasar krempyeng’. Dimana para pedagang menggelar dagangannya di tanah di sekitaran halaman yang banyak tumbuh pohon beringin, tak lama setelah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (1758).

Nama “Beringharjo” diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Beringharjo yang berarti hutang beringin (Bering) yang bisa memberikan kesejahteraan (harjo) kepada rakyatnya. Alhamdulillah, sampai saat ini nama tersebut dapat memberikan berkah kepada para pedagang, pembeli, maupun pengunjungnya. Puluhan milyar rupiah transaksi yang berputar tiap minggunya. Dua blok bangunan yang penuh (sesak) dengan para pedagang dan pengunjung hampir tak pernah sepi. Terutama di bagian stan batik maupun kebutuhan sembako.

'Pemadam kelaparan' ada di blok II. (dok. pribadi)

Penjual mulai usia belasan tahun hingga kakek/nenek yang berusia 80-an tahun ke atas banyak kita jumpai di sini. Gambaran utuh masyarakat Jogja yang pantang menyerah terhadap nasib dan usia. Hal ini sekaligus menjadi daya tarik bagi para penulis maupun fotografer untuk mengabadikan setiap jengkal ‘harapan hidup’ yang ada di dalamnya. Pasar Beringharjo yang memberi banyak pelajaran bagi siapapun yang mau belajar di sana. Seperti halnya sulung kami yang akhirnya memiliki keinginan untuk membeli ‘satu stan saja’ di lantai 2, blok pakaian/busana.

Bagus lho untuk narsis... (dok. pribadi)

Nah, beberapa bingkai yang sempat kami ambil pada sudut-sudut ‘tak lazim’ dengan kualitas gambar seadanya. Semoga dapat memberi inspirasi untuk siapa saja yang belum sempat mengukur jarak antara gerbang depan hingga gerbang belakang.


Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon