Senin, 06 Februari 2017

Serunya Ikutan Workshop Clutch Bag Daluang Di Jogja

Mbak Astri, Neng Tanti, dan Sensei Sakamoto dalam sesi pembukaan workshop. (dokpri)

Daluang. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan ‘deluang’ yang artinya kertas. Lembaran tipis yang terbuat dari bahan kayu pohon daluang (Broussonetia papyrifera) yang dipakai untuk menuliskan sesuatu. Sebagaimana menulis atau menggambar sesuatu pada kertas. Beberapa naskah kuno Nusantara menggunakan daluang sebagai media penulisannya di saat kertas moderen belum diperkenalkan. Sebagaimana naskah-naskah kuno Babat Tanah Jawa yang ditulis di atas rontal (daun pohon ental).


Cerita tentang daluang telah ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9. Daluang telah dipakai untuk berbagai keperluan keagamaan seperti digunakannya untuk pakaian pandita, mahkota atau penutup kepala, serta sebagai kertas suci untuk penulisan kitab suci. Sementara di Jawa digunakan sebagai bahan pembuatan wayang beber maupun gulungan naskah yang berisi naskah pewayangan.

Karena proses pembuatan yang begitu rumit, maka daluang memiliki nilai tinggi. Namun saat ini hal tersebut kurang disadari. Padahal kulit pohon untuk membuat daluang memiliki kualitas untuk membuat benang dan tali yang berkualitas sangat tinggi. Bahkan menurut hasil beberapa penelitian dinyatakan bahwa kulit pohon tersebut adalah bahan paling bagus di dunia untuk membuat tali dan benang.

Fungsi daluang yang sudah tergantikan oleh bahan-bahan membuat mahakarya budaya Nasional tersebut terancam punah. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk mengenalkan kembali dilakukan oleh berbagai komunitas. Kali ini Kriya Indonesia yang dimotori oleh Astri Damayanti menggandeng pakar daluang dari Jepang, Sensei Prof. Ishamu Sakamoto, dan bloger sekaligus seniman doodle, Tanti Amelia membuat sebuah acara di Jogja. Bertempat di Pesona Jogja Homestay digelar acara bertajuk “Workshop Clutch Bag Daluang” pada Sabtu, 4 Februari 2017 kemarin.

Acara yang diikuti oleh 40 orang pengrajin dan bloger Jogja ini dilangsungkan dalam 2 sesi. Dimana dalam tiap sesi di bagi dalam 2 kelompok yang bersilang. Satu kelompok (10 orang) membuat dompet dengan mesin jahit terbaru dan canggih dari Brother, GS-2700. Mesin jahit dengan kemampuan 27 jahitan yang sangat cocok digunakan oleh para perajin yang membutuhkan mesin jahit. Bahan paling tipis hingga yang tebal (spons) dilipas dengan apik dan praktis sebagaimana yang saya coba untuk menjahit dompet.

Sementara untuk kelompok yang lain pada sesi yang sama dikenalkan dengan seni doodle. Doodle inilah yang akan ditorehkan pada potongan daluang untuk pemanis dompet yang dibuat. Doodle yang merupakan seni corat-coret, saat ini telah banyak mendapat tempat dan pengakuan sebagai karya seni yang memiliki nilai jual. Bila zaman dulu corat-coret tembok (mural) dianggap vandalisme. Maka mural yang merupakan salah satu  model doodle kini beberapa senimannya telah menikmati hidup dengan karya seninya tersebut.

"Doodle itu seperti ini lho...," kata Neng Tanti. (dokpri)

Tanti Amelia, atau lebih akrab dipanggil Neng Tanti dengan telaten membimbing peserta workshop mulai dari nol. Bagaimana sebenarnya doodle ini tanpa sadar biasa kita lakukan. Karena media yang digunakan tidak jelas dan tidak terarah, maka hal tersebut berlalu begitu saja. Namun dengan arahan beliau, peserta pun menjadi ‘ngeh’ bahwa pada hakikatnya semua orang bisa membuat doodle.

Doodle berwarna pertama yg saya buat. (dokpri)

Saya sebagai satu-satunya peserta laki-laki pada sesi pertama merasa cukup beruntung. Pengetahuan saya tentang doodle menjadi lebih terarah. Hobi corat-coret yang biasa saya lakukan kapan saja dan dimana saja ternyata bisa dilakukan dengan lebih baik lagi. Termasuk membuat motif gambar pada daluang yang akan saya gunakan sebagai penutup dompet yang akan saya buat.

Setelah tuntas menggambar doodle di atas kertas daluang, kelompok kami pun berpindah ke ruangan lain. Di sini terapat 10 mesin jahit Brother yang secara khusus disiapkan untuk peserta workshop. Sayangnya waktu yang saya peroleh sangat singkat, sebab peserta kelompok jahit harus menunggu dulu teknisi untuk mengeset mesin jahit.

Serius amat nih ya, mbak. (dokpri)

Kendala di atas tak mengurangi semangat saya untuk ‘mancal’ pedal mesin jahit Brother tipe GS-2700. Meski sudah lama tak menjahit, dengan mesin jahit canggih tersebut, semuanya seolah menjadi mudah. Tinggal membiasakan diri untuk menghafalkan setingan yang disediakan oleh mesin jahit tersebut. Sebab bila setingan tak pas dengan bahan yang dijahit, bisa membuat mesin menjadi macet, seperti yang saya alami. Maklumlah, teori yang diberikan untuk mesin jahit baru tersebut diperoleh dalam waktu yang amat singkat. Jadinya benar-benar try and error.

Menjahit dengan Brother GS-2700 semua menjadi lancar jaya. (dokpri)

Beruntunglah Mbak Astri membimbing semua peserta dengan telaten. Sampai-sampai ikutan menjahitkan dompet peserta agar dapat mengejar tenggat waktu yang dijadwalkan. Termasuk saya yang tertolong oleh kebaikan beliau. Maklumlah, sudah ditunggu di acara berikutnya. Hehehe...


Seharusnya even-even seperti ini secara rutin bisa dilakukan. Memberikan ilmu baru sekaligus mengenalkan budaya tradisional yang mulai dilupakan. Sebagaimana manfaat yang telah saya dapatkan setelah mengikuti workshop ini. Keinginan untuk menjahit menjadi menyala kembali. Ganbatte!

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon