Sabtu, 18 Maret 2017

Visite Tidore Island, Membangun Semangat Demi Kejayaan Nusantara

Gunung Kie Matubu bersyal awan. (foto dokpri)

Memandang dari atas dek Kapal Negara (KN) Bakamla Kuda Laut ke hamparan lautan luas, mata seperti tak mau terpejam. Padahal pukul 03.00 Wit aku sudah bangun dan harus segera menuju pelabuhan. Bersama Laskar Gerhana Matahari Total, rombongan kami dari Jakarta harus segera bersegera mengarungi Laut Ternate pagi itu (8/3) setahun yang lalu. Perjalanan ‘berburu GMT 2016’ adalah salah satu pengalaman tak terlupakan sepanjang umurku.

Pun saat kapal berjalan menuju titik tertentu di tengah Laut Ternate. Ada satu pemandangan elok yang sempat membuat hati ini bergetar. Kagum akan keindahan dan kemisteriusannya. Di seberang sana nampak begitu gagah, sebuah gunung yang terjuntai ‘syal di lehernya’. Gunung Kie Matubu, demikian salah seorang anak buah kapal (ABK) memberitahuku. Kemudian yang aku tahu, orang luar lebih mengenal dengan Gunung Tidore. Gunung tertinggi di Prov. Maluku Utara yang berketinggian 1730 mdpl.

Kie Matubu, dirimu membuatku rindu. (foto dokpri)

“Ah sayang, waktuku terbatas. Semoga lain kali Allah Ta’ala memberikan kesempatan untuk memelukmu,” akupun berdoa sambil menghibur diri sendiri.

Meski akupun sebenarnya ada janji dengan salah seorang sahabat yang mempertemukan kami di Jogja. Salah satu senior yang membimbingku dalam kegiatan kevolunteran. Sebut saja Bang Sinen. Saat aku hubungi ternyata sedang sibuk di Tidore. Sehingga tak sempat menengokku ke Ternate.

“Kapan-kapanlah kalo Kau ke Ternate lagi. Bermalamlah di rumahku di Tidore. Terlalu cepat Kau di sini,” demikianlah pesan yang selalu aku ingat.

Nah, kini harapanku untuk memenuhi ‘panggilan’ Kie Matubu pun di depan mata. Jelang peringatan Hari Jadi Kota Tidore ke-909 tahun 2017 ini, ajakan Tim Ngofa Tidore tak boleh disia-siakan. Berkunjung ke negeri yang pernah mengalami masa keemasan pada zaman dahulu. Negeri yang kini mulai bangun dan bergegas menyongsong hari depan yang lebih baik. Kembali meraih ‘mahkota’ kejayaan Moloko Kie Raha (Negeri Empat Sultan)


Tidore Merenda Kejayaan

Pintu gerbang Kedaton Kesultanan Tidore. (foto dok. Anita G.)

Tidore kemarin seperti gambaran dari Firtjof Capara tentang ‘titik balik peradaban’. Dia menyatakan bahwa setelah mencapai puncak vitalitasnya, peradaban cenderung kehilangan tenaga budayanya, lalu runtuh”. Gambaran yang mirip dengan kondisi Tidore kemarin. Setelah pernah mencapai kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Nuku, Kesultanan Tidore seolah sedang tertidur lelap. Tak ada lagi hentakan tifa yang mengiring penari Soya Soya terdengar di luar. Tak ada lagi kabar yang mendunia tentang kisah kejayaan itu sendiri.

Rupanya keresahan anak-anak Nusantara mampu ditangkap dengan cerdas oleh putera-puteri Tidore. Lewat seruang kreativitas dan daya juang yang tinggi, mereka menceritakan kembali tentang kejayaan itu. Ngofa Tidore menjadi fenomenal meski baru dirintis oleh Anita Gathmir dan timnya. Inilah Tidore, inilah kejayaan yang akan kembali kami raih meski dengan cara yang lain.

Ngofa Tidore, berdaya melewati segala keterbatasan. (foto dok. Anita G.)

Memperkenalkan kembali lewat sajian budaya. Menjawab tantangan Firtjof tentang membangun kembali puncak vitalitas lewat budaya. Dukungan dari Sultan Tidore saat ini, H. Husain Sjah (Sultan Tidore yang ke-37), tentu bukan pepesan kosong belaka. Termasuk langkah-langkah beliau yang begitu tegas untuk mempertahankan ‘wilayahnya’ dari kepentingan-kepentingan yang tak bertanggungjawab. Hilangnya kekuasan politik bukan berarti beliau tak mampu bersikap secara politis.

Ini menjadi langkah maju bagi perubahan budaya pemerintahan di Maluku Utara khususnya, Indonesia pada umumnya. ‘Keberanian’ untuk menyentil langkah Presiden RI, Joko Widodo yang tanpa berempuk dengan masyarakat Morotai. Inilah salah satu langkah politis pewaris tahta Maluku Kei Raha yang membuka mata anak negeri. Seolah kembali mengingatkan bahwa membangun kejayaan Nusantara tidaklah diperoleh secara gratis.

Sultan H. Husain Sjah dan permaisuri beserta punggawa kedaton. (foto dok. Anita G.)

Dulu VOC demi pala, rela berjibaku menempuh jarak ribuan kilometer. Kini mengatasnamakan pembangunan, negarapun mencoba mengusik kearifan lokal yang dimiliki oleh rakyat. Nah, ini sebenarnya adalah PR besar bagi pemerintah. Bagaimanapun dukungan dari masyarakat adat tentu tak bisa diabaikan. Sebagaimana masyarakat Tidore Kepulauan yang kini lebih merasakan kehadiran sosok kepemimpinan yang bijak lewat Sultan H. Husain Sjah.

Lewat peringatan hari lahirnya, yang diperingati tiap tanggal 12 April, harapan-harapan itu mulai direnda. Prosesi Dowaro hingga proses Kirab Agung diharapkan bukan hanya menjadi simbol. Namun menjadi semangat yang menyala kembali untuk memajukan masyarakat Tidore tanpa meninggalkan 2 prinsip hidup, yaitu: Kolano Se i Babato Dunia (adat) dan Se i Bobato Akhirat (agama). Pun dalam membangun masyarakat, tak meninggalkan filosofi Atur se Fato. Memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk mengatur pemerintahan dan memutuskan kebijakan berdasar musyawarah untuk mufakat.


Budaya dan Pariwisata Tidore yang Bergeliat



Seni dan budaya Tidore, ibarat keberadaan sayur yang tak terpisahkan dengan nasi. Nasi tanpa sayur akan terasa kering. Pun demikian sebaliknya, sayur tanpa nasi akan terasa hambar. Demikian juga dengan budaya Tidore yang menggambarkan bagaimana masyarakatnya mampu mencapai kejayaan di masa lalu. Perang bukanlah menjadi momok. Perang menjadi seni untuk menaklukkan musuh, sekaligus meluaskan wilayah kekuasaan.

Sejarah tak pernah berbohong. Demikian juga warisan seni dan budaya yang bernilai tinggi terlahir dari bumi Tidore dan bekas wilayah kekuasaannya, yang terbentang dari utara hingga selatan. Dari Morotai, Halmaherah, hingga ke Raja Ampat Papua Barat. Maka tak heran Visit Tidore Island, saat ini menjadi tema yang kekinian. Menyusul saudaranya, Ternate, yang lebih dahulu mengenalkan diri di dunia internasional. Selain memang 'keuntungan strategis' dimana bandara Sultan Babulah sebagai pintu masuk ke Prov. Maluku Utara berada di Kota Ternate.


Menanti senja di Tanjung Soa Sio Galela, Halmahera Utara. (dok. foto Anita G.)

Seiring berpindahnya ibu kota Prov. Maluku Utara ke Sofifi, Pulau Halmahera, maka perlahan-lahan geliat wisata di Tidore juga mulai bergairah. Lewat Tim Ngofa Tidore, usaha tiada lelah dilakukan ke berbagai daerah dan negara. Diharapkan dengan kekayaan seni dan budaya yang dimiliki menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Belum lagi kekayaan sejarah berupa bangunan bersejarah hingga berbagai artefak yang dimiliki.


Pulau Maitara dan senja di depan mata. (foto dokpri)

Alam yang dimiliki oleh gugusan kepulauan di wilayah Tidore juga menyuguhkan 'atraksi' yang tak kalah memikat. Ada Pulau Maitara yang sempat menjadi gambar latar uang pecahan kertas Rp. 1.000,-. Puncak Gunung Kie Matubu yang kini menjadi buruan para pendaki. Air Terjun Goheba yang berada di dalam hutan di Kelurahan Kalaodi yang selalu memanggil pengunjungnya untuk mandi. Pulau Mare dengan keberadaan lumba-lumbanya.


Spot diving yg bertebaran di Tidore. (foto dok. Anita G.)

Sementara Pulau Tidore yang dikelilingi oleh pantai nan indah tak akan pernah kehilangan paras ayunya. Pantai Ake Sahu yang terkenal dengan pemandian air panasnya yang berada di tepi pantai. Pantai pasir putih di Teluk Cobo yang dipagari hutan nan hijau. Belum lagi ditambah keindahan pantai di sepanjang Pulau Halmahera, Pulau Morotai, dan pulau-pulau lain di wilayah Kota Tidore Kepulauan.


Sultan Husain Sjah dlm rangkaian acara Lufu Kie. (foto dok. Anita G.)

Ke Tidore pun akan terasa pas bila bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Lahir Kota Tidore. Diawali dengan ritual Lufu Kie pada tanggal 8 April 2017. Momen ini adalah untuk mengenang armada Lufu Kie yang berhasil mengusir armada VOC di masa pemerintahan Sultan Syaifudin "Jou Kota" (1657-1689). Selanjutnya pada tanggal 11 April 2017 digelar acara yang sarat dengan nilai-nilai budaya yaitu Paji Nyili-nyili. 10 bendera yang mewakili daerah-daerah akan dikarak menuju Kedaton Kie, Kesultanan Tidore. Acara yang digelar malam hingga pagi hari ini menjadi pemanasan untuk puncak acara di pagi 12 April 2017. 


Kedaton Tidore siap menyambut para tamau. (foto dok. Anita G.)

Dapat dipastikan masyarakat akan memadati acara puncak peringatan Hari Lahir Kota Tidore yang ke-909 di Sonyine Salaka Kadaton Kie Kesultanan Tidore. Rangkaian acara yang akan digelar selama seminggu ini tentu menjadi agenda wisata yang tak boleh dilewatkan begitu saja. 


Membangun Semangat, Demi Kejayaan Nusantara


Rangkaian P. Tidore, P. Maitara, P. Ternate. (Foto dokpri)

Segala upaya untuk membangkitkan kembali semangat juang Kesultanan Tidore merupakan nilai-nilai adiluhung yang harus dipertahankan. Kekayaan negeri ini dibangun atas kekayaan yang dibangun dari kearifan lokal. Kekayaan alam, budaya, dan sejarah merupakan kekayaan yang tak boleh disia-siakan. Sebagaimana ungkapan "Tikus yang mati di dalam lumbung", maka bangsa ini sudah sepatutnya untuk kembali menghargai nilai-nilai kearifan lokal tersebut.

Bung Karno pernah menyatakan tentang "Jasmerah" (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Maka sudah sepatutnya sejarah kelam bangsa ini yang tunduk di bawah kekuasaan ekonomi penjajahan asing jangan sampai terulang kembali. Pun dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai daerah dalam mengangkat potensi daerahnya. Sebagaimana Tidore lewat tangan Sultan Tidore, H. Husain Sjah yang kembali menguatkan eksistensi kebangsaan sebagai negeri yang berdaulat. Meski bukan sebagai pemimpin eksekutif, pengaruh sultan tentu tak bisa dipandang sebelah mata.

Islam sebagai pegangan utama kepemimpinan di Tidore sangat menghormati siapapun sebagaimana potongan bait syair di bawah ini.


Jou Fola Madihutu…… Suba Fola Madihutu...Jou Suba teri Suba.. mayou ine re tosuba ma alu-alu ri paksaan hate bula ngori jou…Gulu moju retosuba…subayo yado ua siden hormati. Hormati yo yado ua siden toma enare…Rigena re jou...

(Hormat pada tuan rumah…. Salam hormat pada tuan rumahHormat diatas hormat… paling tinggi diatas hormat yang paling rendah paksaan. Dari jauh saya hormati… hormati tidak sampai, saya tetap hormat, namun hormat tetap tidak sampai.)


Tapi jangan harap masyarakat Tidore akan diam saat ada yang mencoba mengusik falsafah kehidupan yang dipegang teguh. Kehadiran Anda sangat berharga bagi kami. Kabarkan kepada dunia bahwa semangat kami tumbuh menyala. Membangun kemakmuran negeri. Mengharumkan nama Nusantara.







This Is The Newest Post

3 komentar

Subhanalloh indah nian tanah tidore ini,bukti kejayaan masa lampau fan.masa skrg.

Lihat Gunung Tidore dari kejauhan saja, hati rasanya sudah kebetot-betot, teh Mude. Hehehe...

rangkaian pulau nya indah banget.
seperti ada kekuatan magis..he2..idah merinding liatnya.., cakep.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon