Minggu, 14 Mei 2017

Mamahke Jogja Bukan Mamah Biasa



Baca judulnya pasti bingung ya? Apaan sih Mamahke Jogja itu? Mahluk apakah gerangan? Ada apakah dengan ‘mamah’ yang tak biasa itu? Hihihi...

Nah, biar tak banyak lagi pertinyiin menggelinding. Sedikit nanti saya akan ceritakan tentang fenomena ‘mamah’ baru di Jogja. Kota yang selalu menciptakan fenomena baru dalam setiap tarikan nafasnya. Kota yang tak pernah lelah untuk menampung kreativitas dari warganya.


Sebagaimana hal tersebut dialami oleh Setiawan Hanung Bramantyo. Cah Yogya asli yang kini menjadi salah satu sineas top Indonesia. Alumni Institut Kesenian Jakarta yang namanya moncer sejak menggondol Piala Citra di tahun 2005 yang lalu. Brownies, begitulah nama film yang melambungkan namanya menjadi Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2005.

Nama kue yang seolah menjadi inspirasi fase berikutnya dalam meniti usahanya di Jogja. Bersama dengan sang istri, Zaskia Adya Mecca memberanikan diri untuk membuka usaha kuliner. Pilihan jatuh ke rumah kue bukanlah pilihan yang mudah. Lewat seruang proses panjang untuk memilih jenis, nama, hingga produk hasil akhir yang disajikan.

Sempat terbersit untuk membuka warung makan atau resto. Pilihan menu gulai dan tongseng kambing yang memang menjadi makanan favorit Hanung. Namun dengan pertimbangan sudah ada tempat yang melegenda untuk menu tersebut, maka diurungkanlah rencana tersebut. Diliriklah usaha rumah kue yang dianggap lebih potensial.


Mamahke Jogja Bukan Pilihan Biasa



Sebagaimana disampaikan oleh Zaskia, Dude Herlino dan Alyssa Soebandono sudah berhasil merintis usahanya di Jogja. Tak ada salahnya, mereka pun menjajaki peruntungan yang telah diraih kedua sahabatnya itu. Mamahke Jogja menjadi harapan Zaskia dan Hanung untuk mengawali bisnis kulinernya. Kota Jogja dipilih menjadi gerai pertamanya. Sebab sebagai pecinta kue tradisional Jogja, cita rasa bakpia tetap harus melekat di produknya.

Sepenggal cerita di atas, disampaikan oleh Zaskia dan Hanung dalam launching Mamahke Jogja yang berlangsung di gerainya, Ahad (8/5) yang lalu. Acara yang dihadiri oleh para netizen di seputara Jogja ini berlangsung cukup semarak. Apalagi di meja saji, disiapkan 6 varian cake yang akan disajikan kepada konsumen mulai Kamis, 19 Mei 2017 besok. Belum lagi kesempatan bertatap muka langsung dengan sang pemilik. Pasti asyik bukan?

Mas Hanung, owner Mamahke Jogja dan saya, owner Papahke (mana-mana). Hahaha...  (fotodokpri)

Oh ya, dipilihnya nama Mamahke Jogja itu muncul dari spontanitas Hanung. Bagaimana membuat suatu makanan ringan yang praktis. Praktis dikemas sekaligus praktis untuk dimakan. Siap saji dan tak perlu ribet untuk diemil. Makanya, untuk pemilihan ukuran potongan kue pun menjadi pertimbangan.

Dalam bahasa Jawa, mamahke yang berarti kunyahkan. Kata dasar mamah yang mempunyai arti mengunyah. Cara bacanya sama dengan saat menyebut bune (ibunya).Jadi, mamahke tidak dibaca “mamah ke” yang artinya mama [pergi] ke, lho ya. Nah, nama yang cukup sederhana bukan? 




Sederhana nama gerainya. Sederhana pula untuk menemukan tempatnya. Berjarak hanya 300 meteran ke arah barat (sisi barat) Alkid (Alun-alun Kidul). Mamahke Jogja berada di Jalan (Kampung) Taman, Patehan, Kec. Kraton, Kota Yogyakarta. Kalau bingung, tinggal tanya tukang parkir Alkid. InsyaAllah sudah pada ngerti lho.


Aneka Varian Kue Khas Mamahke Jogja

Nah, sekarang cerita ke intinya ya. Saat ini Mamahke Jogja baru mengeluarkan enam (varian) rasa. Terdiri dari Red Velvet, Tiramisu, Choco Banana, Greentea Choco, Chocolate, dan Cheese. Bermain dengan 3 lapisan/layer, dimana lapisan ke-dua (tengah) diisi dengan puff pastry (keripik pastel).


Awaaass...jangan sampai gagal fokus ya. (foto dokpri)

Untuk lebih mendapatkan masukan saat sesi uji coba, Zaskia sampai rela turun tangan lho. Membagikan dengan telaten 6 varian kue dengan penuh kesabaran. Tak pelak, momen ini pun menjadi ‘rebutan’ para netizen, narablog, instagramer, maupun youtuber. Sungguh kesempatan yang amat langka lho. Hehehe...


Jangan tanya rasanya Greentea Choco ini. Enaklah pastinya. (foto dokpri)

Saya sendiri kebagian mencicipi 3 varian, yaitu: Red Velvet, Greentea Choco, dan Tiramisu. Berhubung saat itu Jogja lagi panas-panasnya, maka tiap potong kue tersebut whess...whess... Langsung masuk perut begitu saja. Meski sempat sebentar meleluh di dalam rongga mulut. Hihihi.

Ukuran yang pas dalam tiap potong kuenya. Yang punya mulut kecil, seperti saya pun tak perlu sampai menganga. Dimensi potongan sekitar 3 x 5 x 5 sentimeter cukup ideal dihap-hap oleh siapa saja. Nah, jadi kepo kan?

Itulah tadi yang dimaksud oleh Hanung, bahwa tak perlu ribet untuk menikmati kue dari Mamahke Jogja. Jadi, buat mamah-mamah yang pingin jajanan ringan khas Jogja, kini ada jujugan baru selain bakpia. Pun demikian juga untuk wisatawan yang sedang berada di Alkid. Tinggal geser ke barat sedikit ‘sret’, sampailah di jajanan khas baru Jogja.

Mbak Zaskia dan Mas Hanung saat sesi perkenalan dan tanya jawab. (foto dokpri)

Oh iyes, Mamahke Jogja akan buka mulai jam 7 pagi hingga jam 10 malam. Dan untuk harga, jangan khawatir. Sebab setiap kotaknya akan dibanderol dengan harga yang ramah di kantong wong Jogja. Sebagaimana disampaikan oleh Zaskia di sesi tanya jawab seputar produknya.

Bagi yang penasaran, boleh ketemuan dengan saya pada 19 Mei nanti ya. Hari pertama gerai buka dan siap melayani calon pelanggannya. Tapi ingat. Bayar sendiri-sendiri ya! Hahaha...

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon