Kamis, 25 Mei 2017

Menjadi Laskar Gerhana adalah Pengalaman Terdahsyat Selama Menjadi Narablog

Bersama Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. (Foto dokpri)

Menulis Karena Biasa

Menulis. Siapa sih yang tak bisa menulis? Setiap individu akan berhadapan dengan aktivitas menulis. Pelajar atau menulis dalam aktivitas belajarnya mengajarnya. Pedagang menulis rekapitulasi barang yang dijual atau dibeli. Petani pun terpaksa menulis tanda-tangan saat mengajukan kredit ke bank.


Hampir tak ada satu pun pekerjaan yang tak melibatkan proses menulis. Maka beruntunglah manusia yang mampu menjadi penulis. Menulis setiap langkah hidupnya dengan paparan yang rapi. Mudah dipahami oleh siapapun atas apa yang ditulisnya. Penulis yang akhirnya terpaksa ‘dikotak’ oleh kriteria atas tema yang biasa ditulisnya.

Pekerjaan/rutinitas di kantor yang sering terasa membosankan. (Foto dokpri)

Lebih kekinian lagi, ketika dunia kepenulisan luring (luar jaringan / offline) beranjak menuju daring (dalam jaringan / online). Para penulis dengan berbagai genre penulisan mulai berani muncul ke permukaan. Dunia kepenulisan yang selama ini dianggap sebagai kasta rendahan, kini seolah menjadi raja atau ratu. Semua berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai penulis yang patut diperhitungkan.

Pun munculnya sosial media yang dulu hanya sebatas sarana bertukar pembicaraan, kini berkembang lebih jauh. Facebook, Twitter, Path, Instagram, Whatsapp, Line, Blackberry Massanger (BBM), Blog, hingga Youtube, sebagai sarana bersosialisasi. Masing-masing kanal hadir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun blog berhasil menjadi kanal yang ‘paling perkasa’.

Dengan keperkasaan yang mampu menggandeng banyak sosial media masuk ke dalam kanalnya. Oleh karena itu, blog mampu menarik perhatian para netizen (penggiat internet / internet netizen). Sebab informasi yang akan disampaikan terasa lebih luas, dibandingkan ngerumpi lewat chatting. Apalagi lebih memungkinkan ide pikiran kita lebih dikenal oleh khalayak. Alasan ini pula yang menarik saya untuk lebih berdekatan dengan dunia blog.


Menulis Menjadi Luar Biasa?

Agustus 2013 menjadi awal keseriusan untuk membedah ide lewat blog. Saking seriusnya, sehari bisa menulis lima sampai dengan 10 artikel. Dimana satu artikel minimal saya tulis dalam 350 kata. Momen yang wow saat saya ingat masa-masa itu. Berbagai macam lomba maupun even kopi darat saya ikuti. Alhamdulillah, dalam waktu yang tak terlalu lama berbagai lomba blog, lomba penulisan, maupun GA (give away) saya menangkan. Benar-benar merasa menjadi seorang narablog. Hahaha.

Bertamu ke Istana Negara. (Foto dok  Sekneg RI.)

Bertemu para tokoh, artis, pejabat daerah, menteri hingga Presiden RI adalah capaian yang tak terduga. Kalau tidak saya katakan luar biasa. Sebab belum tentu seperti itu jika menjadi ‘orang kantoran’ terus. Bahkan sempat ‘guyon maton’ dilempar seorang sahabat narablog kepada saya.

“Ke mana saja sampeyan selama ini, bro?”

“Eh iya. Ke mana saja saya selama ini? Hahahaha...,” tawa saya dalam hati.

Inilah pilihan hidup yang tak pernah saya duga sebelumnya. Bekerja dari jam 07.00 hingga 17.00, atau bekerja dengan waktu yang saya tentukan sendiri. Kita sendiri yang membat target capaian, bisa atau tidak bisa. Bukan orang lain yang terkadang seringkali membuat hati berperang. Antara dikerjakan atau tidak dikerjakan. Dikerjakan akan menabrak rambu kepatutan. Sebaliknya, bila tidak dikerjakan akan melawan perintah atasan.

Awal 2014 menjadi puncak keberanian meninggalkan pekerjaan sebagai ‘orang kantoran’. Meski bagi sebagian sahabat dekat keputusan saya dianggap ‘bunuh diri’. Karir sebagai manajer personalia yang dirintis 15 tahun, ditinggalkan begitu saja. Memilih pekerjaan ‘tidak jelas’ menurut mereka.


Penulis di website umroh dan haji plus harus umroh dulu biar afdhal. (Foto dokpri)

Dukungan keluarga, isteri dan anak-anak itu yang cukup meneguhkan. Menjadi penulis website biro perjalanan haji dan umroh di Surabaya menjadi pegangan pertama. Selain sambilan mengisi materi untuk pelatihan personalia di sebuah reasearch center di Jogja. Secara finansial tak begitu besar dibandingkan gaji di perusahaan. Namun nilai keberkahan menjadi luar biasa.


Mana yang Paling Luar Biasa

Nah, yang menjadi pertanyaan, pengalaman mana sih yang paling luar biasa?



Bila diurutkan satu per satu berdasarkan tahun, banyak yang luar biasa. Mulai dari turing ke berbagai kota dan obyek wisata secara gratis. Bahkan diberi uang saku yang lebih dari cukup. Menginap di hotel berbintang secara gratis saat kita mengikuti even di suatu kota. Mendapatkan tugas menjadi asisten muthawif (pemandu rombongan umrah) sekaligus menulis pengalaman di website yang saya kelola. Bahkan hadiah berupa haji plus yang saya anggap sebagai hadiah terindah sepanjang kehidupan saya di tahun 2015 yang lalu.

Biar ketularan nggantenge Hanung Bramantyo. (Foto dokpri)

So beuatiful. Belum lagi bertemu dengan para artis yang menjadi idola para remaja. Atau artis sinetron yang sedang digandrungi oleh para ibu rumah tangga. Pun demikian juga dengan para tokoh nasional, pejabat daerah, para menteri hingga presiden. Yups, presiden beneran lho. Awal Desember 2015, menjadi kenangan luar biasa saat bisa bertatap muka secara dekat dengan Presiden RI, Joko Widodo. Kunjungan ke Istana Negara bersama 99 orang Kompasianer merupakan pengalaman luar biasa dan tak terduga. Sebab hanya sehari saja undangan resmi disampaikan kepada saya. Gila nggak?

Dengan langkah terseret-seret, tetap semangat menjadi Laskar Gerhana Detik. (capture detik dot com)

Namun ada satu hal yang paling gila dan gila-gilaan yang pernah saya lakukan sebagai narablog. Sampai ibu mertua yang selama ini ‘baik-baik saja’ sempat kaget juga. Kepergian saya menuju Ternate selama tiga hari dua malam. Padahal empat (4) hari berselang, saya mengalami kecelakaan berat. Tiga hari ke luar dari rumah sakit, langsung berangkat ke Ternate. Menjadi bagian dari Laskar Gerhana Detikdotocom. Itulah hal paling gila yang saya lakukan selama menjadi narablog. Bahkan selama hidup mungkin.


Bersama Pasukan Oranye di depan Fort Orange, Ternate. (Foto dikpri)

Sopir taxi, sopir bus bandara, petugas check-in bandara, petugas pos kesehatan bandara, pramugari, wartawan, perawat dan dokter Puskesmas di Ternate, kelasi kapal, hingga komandan kapal pun dibuat terheran-heran. Dengan kondisi separuh kulit kaki bawah tanpa kulit, serta verban yang membelit tungkai kaki berwarna merah darah, dengan santai saya tetap berjalan. Dengan bantuan satu tongkat yang menopang badan saya agar tetap kuat berjalan atau berdiri. Meski untuk berjalan, paling jauh 25 meter harus berhenti dulu. Berdiri paling lama 10 menit, harus duduk dulu.
Satu hal yang membuat saya bersemangat adalah. Peristiwa gerhana matahari total (Total Solar Eclipse) di Ternate (28/3/2016) ini yang mungkin tak akan saya lihat lagi di Indonesia. Di atas KN (Kapal Negara) Kuda Laut milik Bakamla, Allah Ta’ala memberi hadiah tak terhingga kepada saya dan tim yang lain. Dapat menyaksikan gerhana matahari total dari awal hingga akhir. Meski menggunakan lensa kamera dengan perlakukan khusus.

Dari 13 titik yang disiapkan oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), proses gerhana matahari total yang sempurna di atas Laut Ternate inilah yang sempurna. Kebahagiaan yang akan terekam abadi di ingatan saya. Menjadi cerita kepada anak cucu tentang perjuangan tanpa kenal rasa sakit dari seorang narablog.



Perlu pengorbanan luar biasa untuk mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

---------------------------


.

3 komentar

pengalaman yang menakjubkan ya

Senangnya bisa bertemu Pak Jokowi :)

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon