Kamis, 10 Agustus 2017

Batik Pesisir dan Kabupaten Pekalongan Mendunia Lewat Batik Petungkriyono

Salah satu produk Batik Pesisir milik H. Failasuf.

Berbicara tentang batik, maka Pekalongan tak akan tertinggal dari jejak sejarah. Meski yang telah kita ketahui, Kerajaan Majapahit menjadi tonggak awal sejarah batik dicatat. Berkembang terus hingga pemeritahan kerajaan Islam di Jogja dan Solo di akhir abad ke-18. Berbagai macam dan corak batik tulis terus berkembang dengan berbagai pakemnya. Hingga di awal abad ke-20, mulailah dikenal batik cap.


Batik mulai banyak digunakan di kalangan pesantren maupun pedagang muslim. Maka tak heran, perkembangan batik cukup pesat di kota Jogja, Solo, Cirebon, dan Pekalongan. Hal ini bias kita lihat pada film dokumenter yang diputar di Museum Batik yang berada di Kota Pekalongan. Hingga kemudian Kota Pekalongan sebagai pusat batik nasional lebih dikenal dengan Kota Batik.

Museum Batik Pekalongan, di sini kita bisa mengenal sejarah batik di Pekalongan.

Batik Pekalongan yang terkenal dengan masyarakat pesisiran dikenal dengan kondisi sosio kulturalnya. Masyarakat yang berani, kreatif, jujur, dan ulet. Maka tak heran batik Pekalongan cukup kaya dengan variasi motif dan warna. Bahan dasar yang digunakanpun bervariasi. Mulai dari blacu, mori, katun, hingga kain sutera.

Berbagai produk batik Pekalongan dr zaman dahulu hingga sekarang dipajang.

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan batik di Pekalongan. Termasuk faktor sejarah dan kewilayahan. Kabupaten Pekalongan yang selama ini ‘tertinggal’ dalam mengenalkan dahsyatnya potensi batiknya, kini mulai ‘gumregah’. Salah satu sentra batik di Wiradesa sudah dikenal secara nasional, bahkan dunia. Namun orang lebih mengenalnya dengan batik asal (Kota) Pekalongan.

Di bawah Bupati Pekalongan (periode 2015-2020), H. Asip Kholbihi, SH., MSi., greget Kabupaten Pekalongan untuk ‘menduniakan’ daerahnya. Termasuk di dalamnya adalah potensi wisata maupun ekonomi kreatifnya yaitu kerajinan tradisional batik.


Bumi Legenda Batik Nusantara

Bupati Pekalongan (tengah) berdialog dengan peserta APNE 2017.

H. Asip Kholbihi menyatakan bahwa Kabupaten Pekalongan ingin menunjukkan eksisitensinya. Selain dengan potensi wisata alam yang saat ini dikembangkan di wilayah Petungkriyono, batik pun tak akan ditinggalkan. Sebab dari batik ini pula nama Pekalongan telah dikenal di saentero nusantara, bahkan dunia. Maka tak heran pimpinan daerah lainpun datang menimba ilmu, khususnya di sentra industry batik Wiradesa. Begitu juga para pengusaha batik nasional yang mengambil batik Pekalongan sebagai komodite dagangannya. Demikian beliau sampaikan di depan peserta Amazing Petung National Explore(APNE) 2017. 80 orang blogger, jurnalis, fotografer, serta pilot drone yang hadir dari berbagai daerah, Ahad (6/8) yang lalu.

Penulis bersama H. Asip Kholbihi (tengah) dan H. Failasuf (kiri).

Di Pendopo sentra kerajinan Batik Pesisir milik H. Failasuf, SE., beliau juga menyampaikan bahwa akan membawa nama Kabupaten Pekalongan sebagai Bumi Legenda Batik Nusantara. Rintisan untuk menduniakan Kabupaten Pekalongan dengan trade mark itupun telah ditempuh dengan membuat film dokumentasi pendek. Di dalam film ini, Sang Bupati pun ikut bermain total. Disamping dukungan penuh dari H. Failasuf untuk mengenalkan desain khusus khas Kabupaten Pekalongan.

Salah seorang model sedang memamerkan salah satu motif produk Batik Pesisir.

Hal tersebut sebagai upaya agar UNESCO dapat memberikan pengakuan secara obyektif kepada Kabupaten Pekalongan. Apalagi setelah UNESCO telah menobatkan Batik Indonesia sebagai warisan budaya milik dunia (world heritage) pada Oktober 2009 di Abu Dhabi. Jika Yogyakarta telah menjadi 'World Crafts City of Batik' pada tahun 2014 yang lalu, mengapa tidak dengan Kabupaten Pekalongan? Padahal dalam kekayaan motif, corak, warna, serta besaran produksi tentu tak akan kalah dengan Kota Yogyakarta.

Pesan kuat itu menjadi penyemangat daerah yang dipimpin oleh bupati yang selalu tampil trendi dan melek teknologi ini. Tentu bukan alasan bila Bumi Legenda Batik Nusantara menjadi pilihan nama. Sebab Petungkriyono sebagai salah satu daerah legendaris di wilayah selatan Kabupaten Pekalongan. Situs atau peninggalan raja Wangsa Syailendra dari abad ke-8 bertebaran di daerah tersebut. Antara batik dan tanah legenda tersebut menjadi satu perpaduan yang tak dapat dipisahkan. Wilayah utara kabupaten dengan batiknya. Sementara wilayah selatan dengan tanah legendanya tersebut.


Batik Pesisir Menguatkan Eksistensi Batik Khas Kabupaten Pekalongan

3 motif Batik Petungkriyono diluncurkan secara resmi oleh Bupati Pekalongan.

Orang mengenal batik pesisir sebagai salah satu corak dan motif dominan dari masyarakat pesisir Pekalongan. Corak dan motif yang dibebaskan dari pakem-pakem tradisional khas ningrat/kerajaan maupun etnis tertentu. Kini kita mengenal Batik Pesisir sebagai salah satu rumah produksi batik terbesar di Kabupaten Pekalongan. Di tangan H. Falasuf, SE., Batik Pesisir seolah menjadi salah satu ikon penting batik di Pekalongan.

H. Failasuf mengenalkan tentang perjalanan Batik Pesisir-nya.

Tak heran, untuk mewujudkan niat H. Asip Kholbihi, sang owner Batik Pesisir ini sampai mengenalkan sekaligus meluncurkan secara khusus tiga (3) motif Batik Petungkriyono. Dimana batik ini ke depannya dapat menjadi ciri khas batik Kabupaten Pekalongan yang digunakan dalam berbagai even. Sekaligus bias menjadi oleh-oleh atau cindera mata untuk para pelancong. Motif-motif yang menggambarkan kekayaan hayati di kawasan wanawisata Petungkriyono. Gambar gunung, hewan-hewan langka, serta aktivitas masyarakat Nampak dalam kain yang dibentangkan.

Rumah Produksi Batik Pesisir dan Galeri Batik Sutra.

Batik Pesisir sangat layak menjadi pilihan. Dengan karyawan sekitar 300 orang dan produksi lebih dari 1.000 lembar batik per bulan tentu kredibilitasnya cukup diakui. Tak heran, karya-karya beliau telah melanglang-buana. Mulai dari pejabat sekelas presiden, artis, pengusaha, hingga para pecinta batik telah menjadi pelanggan tetapnya.

Perusahaan yang sebelumnya telah dirintis oleh orang tua beliau bernama “Batik Kusuma Asih”. Perusahaan yang memasok berbagai batik ke perusahaan-perusahaan terkenal. Namun setelah di tangan H. Failasuf, pemasaran pun semakin gencar dilakukan. Termasuk dengan cara door to door. Memasarkan langsung kepada para konsumen. Sebagai ekonom, beliau beranggapan bahwa cara tersebut lebih berhasil. Ditambah dengan system pemasaran yang menggunakan berbagai media.

Salah satu karyawan sedang melakukan proses nyanting.
Bagian quality control yang memperbaiki batik sebelum siap di tangan konsumen

Maka pada tahun 1999, di tengah krisis ekonomi justeru beliau mengenalkan Batik Pesisir sebagai rumah produksi dan galeri batik. Perkembangan yang pesat tak lepas dari sistem promosi yang beliau lakukan. Berbagai media beliau rambah. Termasuk sebagai mitra sponsor even-even yang diselenggarakan oleh Pemkab. Pekalongan. Keberanian itu tentu tak semua pengusaha batik mau melakukan. Maklumlah, biaya promosi terkadang bisa lebih besar dari nilai keuntungan yang diperoleh.

Batik cap juga diproduksi di sini.

Keuntungan jangka panjang itulah yang kini tengah dipetik oleh Batik Pesisir. Bagaimana para wisatawan pun akhirnya tertarik untuk tahu secara detil proses produksi dari awal hingga siap jual. Sebagaimana penulis saksikan para karyawan yang sedang melakukan aktivitas produksi. Dari mereka yang mulai menyiapkan kain yang sudah dicorek/dipola. Kemudian karyawan yang sedang nyanthing, medel (mewarnai), merebus, hingga nglorod dan menjemur.

Duh, harta karun...
Pakaian jadi pun tersedia di sini.

Hal seperti di atas tentu menjadi daya tarik tersendiri bukan?
Sementara itu, para pengunjungpun bisa langsung membawa oleh-oleh batik tulis maupun batik cap. Bakalan atau pakaian siap jadi tersedia di Gallery Batik Sutra yang berada di bagian depan rumah produksi Batik Pesisir. Galeri ini buka setiap hari, mulai jam 08.00 – 16.00. Tapi bisa buka lebih pagi atau lebih dari jam tutup jika ada permintaan dari pengunjung sbelumnya.

Galeri yang buka setiap hari.


Untuk datang ke Batik Pesisir bisa ditempuh dengan kendaraan ojek onlen maupun kendaraan carter dari terminal maupun stasiuan kereta api Pekalongan. Kendaraan pribadi tentu lebih mudah menjangkaunya. Beralamat di Kemplong No. 231 Wiradesa – Kab. Pekalongan. Bisa kontak di (0285) 4417202 atau nomor HP. 0815 7879 1551. Nah, mau belanja kan?
_____________________________

Catatan: semua foto adalah koleksi pribadi.

This Is The Newest Post

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon