Sabtu, 05 Agustus 2017

Petung Kriyono, Menapak Jalan Terjal Menuju Kejayaan


Persiapan defile Piala Adipura Kab. Pekalongan 2017.

Kabupaten Pekalongan kini tengah gencar berbenah. Di bawah kepemimpinan Bupati H. Asip Kholbihi, SH., MSi., tak ada lagi kata malas atau ‘nanti saja’. Ketertinggalan dalam berbagai aspek pembangunan dengan daerah tetangga, tak dapat dimaklumi lagi. Langkah cepat dan cerdas diambil diambil penentuan kebijakan pembangunan daerah.


Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan bersama Piala Adipura 2017.

Hasilnya pun kini terlihat. Salah satunya adalah keberhasilan meraih Piala Adipura dari Presiden RI. Setelah penantian panjang selama 19 tahun, akhirnya piala dalam kategori kota kecil kembali diboyong. Tentu hal tersebut bukanlah dilakukan dengan simsalabim. Kinerja seluruh jajaran Pemkab Pekalongan sekaligus dukungan masyarakat menjadi salah satu kunci utama.

Para siswapun bersiap menyambut lewatnya rombongan defile.

Hal ini sebagaimana penulis saksikan sendiri. Antusiasme masyarakat yang begitu menggelora, Kamis (4/8) kemarin. Sepanjang jalan mulai dari Rumah Dinas Bupati, Lapangan Gemek, dan kembali ke start, masyarakat tumpah ruah. Atraksi drumband, hadrah, hingga musik patrol disajikan oleh para siswa dan masyarakat umum. Sejak pukul dua siang mereka sudah bersiap. Meski rombongan devile Piala Adipura baru keluar dari Rumdin Bupati Pekalongan pada jam tiga sore.

Karang tarunapun tak mau ketinggalan dg iringan musik patrolnya.

Inilah wujud rasa gembira masyarakat, bahwa Kabupaten Pekalongan bisa. Keyakinan itu pula yang didorong kepada semua aparatur pemerintahan oleh bupati. Gayung bersambut, masyarakatpun akhirnya tumbuh rasa empati terhadap program-program yang dicanangkan oleh pemerintah. Salah satu bidang yang mulai digarap serius adalah bidang pengembangan potensi wisata lokal.

Untuk menunjukkan lebih intensnya Pemkab Pekalongan menyuarakan keberadaan Petungkriyono, diajaklah 80-an orang netizen. Harapan besar disematkan kepada peserta Amazing Petung National Explore (APNE) 2017 untuk mengabarkan kabar baik. Bahwa nun jauh di daerah selatan Kabupaten Pekalongan terdapat 'surga yang baru ditemukan'. Petungkriyono dengan beberapa puncak bukit yang menggoda, sangat patut diperhitungkan keberadaannya.

Para peserta APNE 2017 begitu antusias menonton tarian penyambutan.

Terbentuknya kelompok-kelompok sadar wisata (Pokdarwis) lebih memudahkan program pengembangan pariwisata berjalan. Mengangkat Petungkriyono sebagai ikon wisata andalan Kabupaten Pekalongan termasuk bukan hal yang mudah. Namun kembali kepada keyakinan, niat dan semangat serta didukung kebijakan strategis serta partisipasi masyarakat, yang seolah tidak mungkin, bisa menjadi mungkin.


Curug Sibedug

2 air terjun kembar nan eksotik.

Lokasi pertama yang berjarak sekitar 1,5 km. dari pintu gerbang Komplek Wanawisata Petungkriyono. Lokasinya berada di Dusun Sonokembang, Desa Kayupuring. Dua (2) air terjun kembar dengan ketinggian sekitar 20-an meter akan memanjakan mata kita. Meskipun musim kemarau, debit air yang meluncur dari sumber di atasnya cukuplah banyak.

Tempat yang asyik untuk pepotoan.

Siapapun pasti tertarik untuk mengabadikannya.

Tempat yang masih alami justru menjadi nilai tambah. Apalagi letaknya tepat berada di sisi barat jalan lintas Doro – Petungkriyono. Tersedia juga warung-warung di sekitarnya yang menyajikan Kopi Owa. Kopi dari jenis robusta inilah yang menjadi salah satu andalan masyarakat di sini. Dinamakan Kopi Owa, sebab sebagian hasil penjualan kopi ini juga digunakan sebagai biaya untuk konservasi hewan primate asli Indonesia yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch).

Elang Jawa berusaha 'memburu' drone peserta APNE 2017.

Ops hampir lupa. Di sini juga penulis sempat menangkap kehadiran Elang Jawa. Salah burung langka dan dilindungi. Nan gagah mengepakkan sayapnya, seolah sedang mengcapkan selamat datang kepada peserta APNE 2017. Penampakan yang jarang terjadi sebenarnya. Namun karena dengungan suara drone, dia tertarik untuk mendekati.


Jembatan Sipingit

Jembatan yang nampak anggun namun misterius.

Jembatan yang dibangun pada tahun 1980-an ini cukup melegenda. Dinamakan demikian sebab erat hubungannya dengan Kedung Sipingit. Tempat yang cukup membuat bulu kuduk berdiri, sebagaimana cerita Heri, salah satu pengemudi Anggun Paris kepada penulis. Makanya jarang sekali yang mejeng di tempat ini berani sendirian. Sebab asyiknya memang rame-rame. Hehehe.

Ingin menyeburkan diri ke belaian arus nan eksotik.


Riak-riak sungai Welo yang membuat glela-glelo.

Berjarak kurang dari satu kilo meter dari Basecamp Welo River. Oleh karena itu, sebaiknya pengunjung menyempatkan untuk berhenti sejenak. Pemandangan sungai di bawah jembatan cukuplah ‘menggairahkan’. Coba saja seandainya, penulis dan rombongan peserta APNE 2017 diberi waktu lebih, pilihan mandi di sungai Welo pastilah masuk akal. Air yang jernih, ditambah hawa dingin yang menyusup ke tulang, pasti akan member sensasi tak terlupakan.


Welo River

Selamat datang di Welo Asri (River)

Eh, aku keren kan?

Lanjut berikutnya. Welo River menjadi destinasi berikutnya. Spot-spot untuk berfoto bertebaran di sini. Selain river tubing yang memang menjadi andalan. Bila berombongan dan cukup waktu, bermain ban menyusuri sungai Welo tentu menjadi pilihan yang mengasyikkan. Hanya dengan merogoh kocek 75 ribu/orang Anda akan ‘dininabobokkan’ oleh arus sungai Welo. Jangan khawatir, untuk masalah keamanan Anda akan didampingi oleh tenaga profesional.

Lutung Jawa yang lagi bergelayutan dan berkejaran.

Jika beruntung, di sini Anda juga bisa menangkap penampakan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Sebagaimana peruntungan yang penulis peroleh siang itu, Jumat (5/8). Beberapa ekor Lutung Jawa Nampak tengah bermain-main. Ada sekitar 4 sampai 5 ekor yang tertangkap kamera. Sayang, hanya satu ekor saja yang Nampak jelas di gambar penulis.

Nah, Owa Jawa pun tak mau ketinggalan.

Sementara, Owa Jawa pun tak mau ketinggalan ikut bermain. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa tanda-tanda konservasi satwa tersebut membuahkan hasil. Hal ini pula yang menjadi daya tarik para turis maupun peneliti manca untuk datang ke Petungkriyono. Hutan Sokokembang member ruang gerak yang baik untuk kelesterian hidup hewan primate tersebut.


Curug Bajing

Gerbang menuju Curug Bajing.

Foto-fotoan di sini dulu, yuk...

Nah, di curug atau air terjun inilah biasanya menjadi salah destinasi favorit pasangan yang lagi kasmaran. Ketinggian di atas 1300 dpl membuat hawa semriwing menyambut kehadiran kita di sini.  Indahnya bunga-bunga yang tumbuh dan kembang di sepanjang jalan menuju curug, menambah nganunya suasana. Pendopo pamer maupun spot-spot foto buatan dapat dimanfaatkan oleh mereka penghobi fotografi maupun selfie. Hahaha.

Dari kejauhanpun nampak menggoda.
Kiyeh tergoda sampek mabok kepayang.
Semua mahluk cantik berhak mejeng di sini.

Dengan 70 meter panjang Curug Bajing, dari sudut manapun, curug ini Nampak indah dan elegan untuk dipandang. Bagi yang menginginkan sensasi lebih, berfoto di bawah guyuran air terjun tentu lebih cihuy. Sayang, sekali lagi sayang. Waktu untuk penulis hadir di sini amatlah pendek. Padahal begitu banyak kisah yang seharusnya bisa dituliskan bila waktu lebih panjang. Ah, sudahlah. Siapa tahu esok akan sua lagi. Ciecie


Curug Lawe

Ayo digoyang, maaaasss....
Pokok'e joget. Pokok'e joget. Yiiihaaa...

Inilah tempat yang membuat penulis sedih. Karena hari sudah rembang petang, gagal totallah rencana berburu spot cantik Curug Lawe. Kisah tentang panjangnya waktu yang harus ditempuh menuju curug ini, sudah membuat penulis keder. Maklumlah, jam menunjukkan pukul 16.45 saat sampai di gerbang masuk komplek. Padahal kata mbah-mbah yang penulis temui, butuh waktu antara 45 menit hingga satu jam untuk sampa di sana.

Cemara bak rangkaian tangan yang saling bergandengan.

Sedih? Ya juga, sih. Kan saya penulis datang dari jauh. Untunglah, hiburan tarian selamat datang dari grup rampak gerak salah satu ponpes di Petungkriyono cukuplah menghibur. Bahkan penulis pun terbawa untuk melenggaklenggokkan badan mengikuti iringan musik yang cetar membahana.


Anggun Paris

Oh, Anggun Paris. Aku padamu lho ya.

Jalanan yang penuh dengan perjuangan menuju banyak destinasi wisata di Petungkriyono tentu butuh armada yang tangguh. Di tangan para ‘pilot’ Anggun Paris (Angkutan Gunung Pariwisata) inilah beban berat diamanatkan. Lha, kok?

Calon 'Duta Anggun Paris' ini ya.

Kendaraan ‘elsapek’ inilah yang akan mengantarkan rombongan wisatawan untuk menuju puluhan tujuan wisata di Petungkriyono. Dengan biaya sewa sekitar 500 ribuan, ‘kenyamanan’ Anda akan dijamin. Tentu saja ke depannya berharap Pemkab Pekalongan untuk meningkatkan sarana prasarana jalan menuju Wana Wisata Petungkriyono. Sebab mulusnya jalan, tentu saja akan menambah mulusnya pemasukan asli daerah (PAD). Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bupati Pekalongan saat melepas rombongan peserta APNE 2017. Bahwa pembangunan fasilitas penunjang akan terus dilakukan di Petungkriyono.


Menapak dengan pasti meski jalan berliku dan berbatu. 


Jalan masih banyak yang terjal, Bapak, Ibu. Tapi inilah hidup. Harus mampu diatasi dan memberikan solusi-solusi. Sebab keluh kesah tak akan memberikan arti. Menuju kejayaan sebagai tanah harapan adalah keniscayaan. Mengangkat harkat dan martabat masyarakat Kabupaten Pekalongan, menuju derajat kehidupan yang lebih baik.

______________________________

Catatan: seluruh foto adalah dokumen pribadi.


2 komentar

pasti elangnya menganggap itu drone adaah musuh, untung ga digondol ahaha

Lha, yang bengok-bengok nyuruh turun malah saya tuh, mbak In. Hehehe.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon