Selasa, 19 September 2017

4 Pilar MPR RI dan Belajar Sejarah




Bicara tentang 4 Pilar MPR RI, tentu kita akan bicara sejarah. Bagaimana para founding father negeri ini menyadari bahwa negeri ini penuh kemajemukan. Keberagaman suku, agama, ras, serta budaya memiliki potensi tinggi untuk terjadinya gesekan sosial. Hal yang tak boleh terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keberagaman itulah yang menjadi titik penting penting. Keberagaman yang harus diwujudkan dalam satu tekad untuk memperkokoh komitmen kebangsaan. Hingga semboyan Bhinneka Tunggal Eka menjadi ruh bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila menjadi dasar dan ideologi negara yang tak perlu lagi diperdebatkan. Serta Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara serta Ketetapan MPR.

MPR sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mengukuhkan pilar-pilar fundamental berbangsa dan bernegara. MPR juga dituntut berperan dan  bertanggung jawab dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya. Salah satu peran penting adalah amanat Peraturan MPR Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Tertib MPR. MPR memiliki tanggung jawab untuk memasyarakatkan Ketetepan MPR, memasyarakatkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.


Menggandeng Netizen untuk Sosialisasi 4 Pilar MPR

Bukan pekerjaan mudah memang untuk sosialisasi 4 Pilar MPR. Apalagi pasca ‘dibekukannya’ Pedoman Penghayatan Pengalamalan Pancasila (P4) yang dianggap sebagai ‘Produk Orde Baru’. Sebuah konsekuensi dari gerakan reformasi pada tahun 1998. Tuntutan atas banyaknya perubahan di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana yang di sampaikan oleh Ma’ruf Cahyadi, SH., MH., Sekretaris Jenderal MPR bahwa pentingnya masyarakat diingatkan kembali tentang pilar-pilar penting kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai upaya untuk lebih ‘membumikan’ Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Peran generasi muda dan netizen yang cukup akrab dengan inovasi diharapkan lebih kreatif dalam menyampaikan pesan-pesan tentang 4 Pilar MPR.

Hal tersebut di sampaikan dihadapan 50-an netizen dalam acara yang bertajuk Netizen Semarang Ngobrol Bareng MPR RI di Hotel Grandhika, Sabtu (16/9) yang lalu. Setelah sebelumnya Siti Fauziah, Karo Humas MPR RI, menyampaikan bahwa ngobrol bersama netizen ini adalah salah satu metode yang telah dilakukan juga di bebarapa kota yang lain.

Dengan gaya khas yang santai, lugas, namun tegas, Setjen MPR RI termuda ini juga ‘menantang’ para netizen untuk lebih berdaya dengan tulisan-tulisannya, khususnya bagaimana agar 4 Pilar MPR lebih mudah dicerna oleh para pembacanya. Sebab netizen memiliki lingkaran pergaulan yang dapat ‘berbicara’ dengan frekuensi yang sama. Tidak melulu tentang teori-teori yang seringkali sulit untuk dipahami.

Bagaimana dengan semangat ‘Ini Baru Indonesia’ netizen bisa lebih mudah ‘mencerna’ apa yang dimaksud dengan mengamlkan Pancasila. Salah satu contoh slogan: Berhentilah Silang Pendapat, Mulailah Mencari Mufakat. Sila ke-4 Pancasila ini memberi pelajaran bagi kita, bahwa silang pendapat yang tak berkesudahan akan menyulut hal-hal yang negatif. Permufakatan menjadi jalan keluar agar diperoleh solusi yang saling tidak merugikan.


Cerdas dengan Sosial Media

Sementara itu, Dr. H. Bambang Sadono, SH., MH., Ketua Badang Pengkajian MPR RI sekaligus dosen di Undip Semarang menyampaikan materi tentang Cerdas Bersosial Media. Bagaimana saat pengguna media sosial menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat dan lapisan usia. Apalagi bagi anak muda, media sosial seolah tak bisa dipisahkan dari  kehidupannya. Oleh karena itu, pemanfaatan media sosial hendaknya lebih memberikan nilai manfaat.

Menguatkan fondasi berbangsa dan bernegara termasuk di dalamnya Bhinneka Tunggal Ika bisa dengan cara yang cerdas. Salah satunya adalah dengan menyampaikan konten positif di medsos. Bahwasannya kita perlu tumbuhkan kesadaran bahwa negara ini dibangun atas keberagaman. Keberagaman itulah yang menjadi satu kekuatan untuk membangun negeri. Bukanlah malah sebaliknya. Perbedaan dijadikan alasan untuk saling ‘baku pukul’.

Medsos itu potensial untuk aktivitas posiitif. Di sisi lain, potensial untuk merusak. Menghasut, merisak, serta mengagitasi siapa saja yang berbeda pendapat maupun kepentingan. Tak heran, berbagai hoax kini berseliweran di lini masa media daring. Hal ini, membuat media mainstream (koran, majalah, dan media cetak lainnya) kembali menajadi rujukan. Sebab diyakini media tersebut lebih objektif menyampaikan pesan-pesannya.


Di sinilah peran netizen yang telah mengikuti sosialisasi untuk lebih banyak belajar. Termasuk mau kembali mempelajari sejarah kehidupan bangsa. Satu hal yang banyak dilewatkan oleh generasi milineal. Sehingga seringkali mudah ‘tergesek’ dengan tulisan-tulisan yang tak  jelas rujukannya.




Meski waktu yang disediakan oleh panitia tak cukup banyak, antusiasme peserta cukup diacungi jempol. Saat dibuka sesi dialog, 6 orang netizen silih berganti menyampaikan pertanyaan dan pendapatnya. Hal ini menjadi salah satu indikasi akan butuhnya informasi lebih dalam dari paparan nara sumber yang telah disampaikan. Semoga hal ini sekaligus menggambarkan semangat para netizen untuk menyampaikan konten-konten positif tentang 4 Pilar MPR RI.





Pun demikian dengan kami dari alumni Netizen Solo yang berkesempatan untuk hadir kali ini. Yudi, Arfika, 'Kokoh' Muthohar, dan saya sendiri merasakan semangat positif di gathering Semarang kali ini. Semoga perjalanan di kota-kota berikutnya lebih semarak lagi dengan semangat menyosialisasikan 4 Pilar MPR RI.



1 komentar so far

Semoga para netijen yang budiman ini bisa berhasil menularkan virus anti hoax ke para netijen yang lain.. :)

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon