Sabtu, 07 Oktober 2017

Hau Citumang, Kami Datang

HAU, satu kata yang baru saya kenal. (dok. pribadi)

Malam bertambah larut. Saat mobil carteran memasuki kawasan Pangandaran. 18 orang bloger travel sebagian telah terlelap. Meski jalan meliuk-liuk yang sedang kami tempuh. Bang Aswi pun menyalakan api yang mulai redup.

“Sebentar lagi mau sampai nih. Pokoknya kalau ada Indomaret, tinggal masuk. Tak begitu jauh dari jalan besar, kok,” hiburnya.


Stasiun Kota Banjar sampai ke Citumang ternyata cukup jauh juga. Tak kurang dua jam waktu yang harus kami tempuh. Sementara kaki saya cukup terasa gempor. Sebab sesiangan saya jalan-jalan membelah Kota Ciamis. Maksud saya benar-benar jalan lho. Tidak naik kendaraan.

Boarding pass KA Lodaya sudah di tangan. (dok. pribadi)

Rabu, 13 Oktober 2017 menjadi hari yang tak terlupakan. Kereta api Lodaya gerbong ke-2 dan kursi 11-A membuka hari dari Stasiun Solo Balapan. Berangkat jam 07.10, sampai di stasiun KA Kota Banjar jam 11.54. Sebenarnya ada beberapa alternatif kereta api dari Solo. Ada Argo Wilis, Turangga, Malabar, Mutiara Selatan yang tiketnya sekitar 150 ribu rupiah ke atas.

Tapi ada yang lebih ekonomis. Berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogya dengan KA. Pasundan atau KA. Kahuripan. Ongkosnya berkisar 80 sd 90-an ribu rupiah saja. Kebetulan teman-teman bloger Semarang dan Yogya kebanyakan memilih alternatif terakhir. Apalagi janjian jemputan menuju Hau Citumang adalah maksimal jam 19.00.

Jalan aspal yang belum semuanya mulus membuat semuanya terjaga. Celetukan-celetukan usilpun bersileweran menghangatkan suasana. Hingga tak terasa, gerbang Hau Citumang pun menyambut kami. Siang yang terik, rupanya ditukar dengan sejuknya malam. Tak ketinggalan gerimis yang ikut menyambut kehadiran kami.


Hau Citumang

Suasana geje tiba-tiba saja menyergap. Lampu temaram. Gerimis mengundang. Bangunan-bangunan serupa kontener. Sambutan ramah dari Teh Gia. Hingga perut kami yang sedang berteriak keras. Hahaha...

“Baiklah. Kita telah menyiapkan makan malam,” ujar Teh Gia, selaku Markom Hau Citumang.

“Wah, cocok nih,” batin saya.
Maklumlah, semangkuk mie ayam, semangkuk bakso, dan kupat tahu siang tadi telah menguap. Menjadi energi untuk mengayunkan langkah kaki. Menyusuri jalanan Kota Banjar, dari siang hingga sore. Maaf, bukan kalap lho. Tapi memang benar-benar lapar.

Santap malam yang menggiurkan. (dok. pribadi)

Tak lama kemudian, kamipun segera membidik tempat strategis masing-masing. Lauk ayam goreng, lalapan, dan sambel sudah menyulut ‘emosi’ saya. Tenaga yang sudah terkuras, kini seolah mulai menemukan sumber baru.

Resto yang berdiri di atas bibir Sungai Citumang. (dok. pribadi)

Sambil menikmati olahan khas Hau Citumang saya layangkan pandangan ke sekitar. Meski gelap, tapi nampak kerlap-kerlip lampu disela-sela bangunan berbentuk kontener. Belum lagi kecipak air yang menjadi hiburan kami malam itu. Yups, ternyata restoran ini tepat berada di bibir Sungai Citumang.

Kemudian Teh Gia pun memberikan sedikit penjelasan kepada kami. Bagaimana Hau Citumang dirintis untuk memberi nuansa baru wisata. Konsep glamping yang saya juga baru saya kenal. Wisatawan yang ke Pangandaran, memiliki alternatif hotel/tempat menginap dengan gaya baru.

Jika mereka ke Citumang, tak hanya body rafting saja yang bisa dilakukan. Menginap di Hau Citumang, memberi pengalaman baru. Menginap sekaligus menyatukan diri dengan alam. Apalagi kamar yang berbentuk kontener tentu akan menjadi pengalaman tak terlupan.

Menempati lahan sekitar 4.000-an meter persegi Hau Citumang berdiri. Dikelilingi berbagai pepohonan yang sangat rindang dan berdiri kokoh. Beberapa pohon masuk sebagai pohon langka. Berada di Dusun Sukamanah, Desa Bojong, Kecamatan Pangi, Kab. Pangandaran. Berjarak sekitar 18 km. dari Pantai Pangandaran. Hanya 800 meter menuju lokasi start body rafting Sungai Citumang.


Sensasi Tidur di Kontener

Eksotisme menginap di kontener. (dok. pribadi)

Waktu menunjukkan jam 22.40 Wib., saat kami mulai memasuki kontener masing-masing. Bersama dengan Mas Khaerul Leon, dan Mas Irham Faridh kami tempati kontener nomor 09. Saya pilih bed tunggal. Sementara yang lain menempati double bed. Kekhawatiran tentang sumpeknya interior ternyata tak terbukti.

Kamar mandi moderen dan bersih. (dok. pribadi)

Kamar yang cukup nyaman. LCD tv, AC, serta bed yang empuk. Ditambah kamar mandi yang keren. Seolah tak menggambarkan kondisi bahwa kami dalam kamar berbentuk kontener. Ah, untuk yang ini, kamu harus coba deh! Cukup sediakan duit 700-an ribu rupiah untuk mencicipinya semalaman. Gak akan rugi deh.

Tempat favorit berburu dan berbagi sinyal. Hahaha... (dok. pribadi)

Oh ya, untuk kalian yang maniak gawai, jangan khawatir. Ada 3 colokan listrik yang bisa digunakan. Meski sayang seribu sayang, tak semua operator seluler bersahabat di sini. Kebetulan saya gunakan Sm*** yang cukup bersahabat. Meski sinyal kuat hanya di beberapa titik saja. Demikian juga dengan Ind***t yang muncul di satu titik saja.

Glamping? Kalau mau tahu, datang saja ke Hau Citumang. (dok. pribadi)

Ah, sebaiknya lupakan sinyal deh kalau mau menginap di sini. Ada baiknya seharian bebaskan diri dari hiruk-pikuk media sosial. Atau pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan. Sebagaimana semboyan yang pas dari Hau Citumang:

Blend with nature, feel new experience of glamping with us.


Sebagaimana yang mulai kami rasakan saat melewati malam pertama. Lelah terbayar. Rencana indahpun terpampang untuk hari ke-dua besok. 

.

This Is The Newest Post

4 komentar

Seruuu, pak Nuz. Jadi kangen suasana Hau citumang malam hari. Hehe. Klo sinyal jelek emang enaknya ngobrol ya, biar ada kegiatan lain. Ada temenku yang nanya klo malam di sana ada barbeque ga? kayaknya perlu diagendakan deh sama pihak Hau Citumang biar suasana malamnya lebih ramai. :D

Nah, tunggu episode malam jumatnya besok ya. Hahaha....

Iya sih. Manajemen harus menyiapkan agenda malam nih. Biar tidak melulu ngerumpi saja.
Barbeque kayaknya pas dg suasana malam di Hau Citumang, mbak.

Waaah..Malam pertama menginap di HAU Citumang, bikin ketagihan lirik Nia temen sekamar.
Dan suasana di HAU mendadak rame karena ada kamyuu Pakde yang selalu berisik dengan celetukan2 geje.

Ahh, jadi kangen ngumpul lagi..

Mantep bang, blend with nature.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon